Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PEMBANGUNAN PERUMAHAN: REI Balikpapan Bangun 13.000 Unit Rumah Tahun Ini

BALIKPAPAN--Balikpapan akan memeroleh tambahan sekitar 13.000 unit rumah yang akan dibangun sepanjang 2013 oleh para kontraktor yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI).
- Bisnis.com 29 Januari 2013  |  14:02 WIB

BALIKPAPAN--Balikpapan akan memeroleh tambahan sekitar 13.000 unit rumah yang akan dibangun sepanjang 2013 oleh para kontraktor yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI).

Ketua Komisariat REI Balikpapan Andi Sangkuru merinci, 10.000 unit rumah dari rencana 13.000 unit tersebut merupakan rumah tapak (landed house). Sisanya sebanyak 3.000 unit, dibangun menggunakan konsep vertikal baik berupa apartemen maupun rumah susun.

“Masih banyak yang menyasar landed house karena memang pasarnya masih cukup,” kata Andi,” Selasa (29/1/2013).

Dia menambahkan rencana pembangunan tersebut masih berupa data sementara dan kemungkinan masih akan berubah sesuai dengan perkembangan bisnis di lapangan.

Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka tersebut meningkat 30% dari target 2012 yang mencapai 10.000 unit.

Suasana kota yang kondusif ditunjang dengan tipikal Balikpapan sebagai kota transit menjadikan para pengembang optimistis untuk meningkatkan penetrasinya di kota itu.

Selain itu, masih tingginya permintaan atas rumah sebagai kebutuhan pokok menjadi alasan lain pengembang memilih Balikpapan sebagai lokasi pengembangan.

“Faktor lain juga ada yang mempengaruhi, seperti peningkatan penghasilan pekerja karena upah naik sehingga daya beli juga meningkat,” terangnya.

Kendati demikian, imbuh Andi, beberapa anggota REI Komisariat Balikpapan mulai menyasar segmen komersial dan belum tertarik dengan pembangunan rumah sejahtera tapak (RST).

Skema pembiayaan yang didasarkan pada harga jual rumah menjadi alasan enggan masuknya anggota REI untuk membangun RST di Balikpapan.

Skema yang saat ini berlaku untuk RST yakni pembiayaan melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dengan harga jual rumah maksimal Rp95 juta.

Angka tersebut, menurutnya, tidak sesuai dengan harga produksi yang dikeluarkan oleh pengembang perumahan.

“Karena kalau yang disubsidi harganya, kami kesulitan untuk bisa membangun rumah dengan harga segitu. Kami telah meminta agar mekanismenya dikembalikan seperti awal,” katanya.

Adapun mekanisme awal yakni pembiayaan perumahan yang difasilitasi pemerintah ditujukan untuk plafon kredit yang diberikan.

Mekanisme ini diyakini REI Komisariat Balikpapan lebih memudahkan pengembang untuk membangun dan menjual rumah ke konsumen karena berpatokan pada plafon kredit.

“Uang mukanya nanti yang disesuaikan. Yang penting kreditnya sesuai dengan yang diminta pemerintah,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kaltim Sri Sukolestari menyebutkan adanya rencana pembangunan perumahan hingga mencapai 3.000 unit di seluruh Kaltim oleh anggotanya.

Dari jumlah tersebut, 1.000 unit rumah di antaranya akan dibangun di Balikpapan.

Mengenai harga jual rumah, pihaknya mengatakan tidak terkendala kendati dipatok di bawah Rp95 juta.

Dia menyebutkan anggota Apersi sudah memiliki strategi agar harga tersebut bisa sesuai dengan biaya yang harus ditanggung pengembang.

Dia mengatakan tahun sebelumnya hanya sedikit dari anggota Apersi Kaltim yang menggunakan skema FLPP untuk pembiayaan perumahan kendati harga rumahnya memenuhi syarat.

Belum adanya persamaan persepsi antara asosiasi dan kementerian serta perbankan menjadi salah satu alasan tersendatnya penyaluran FLPP tersebut. (K46) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Wiwiek Dwi Endah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top