Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKONOMI INDIA: Suku bunga acuan diturunkan

MUMBAI:  India menurunkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak April 2012 dan memangkas rasio kecukupan modal perbankan untuk menopang pertumbuhan ekonomi di saat inflasi mereda dan pemerintah berupaya mengurangi defisit anggaran.Reserve
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Januari 2013  |  16:34 WIB

MUMBAI:  India menurunkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak April 2012 dan memangkas rasio kecukupan modal perbankan untuk menopang pertumbuhan ekonomi di saat inflasi mereda dan pemerintah berupaya mengurangi defisit anggaran.

Reserve Bank of India (RBI) pada Selasa (29/1) di Mumbai menurunkan suku bunga ke 7,75% dari 8% dan menurunkan rasio kecukupan modal menjadi 4% dari 4,25%.

Kebijakan yang efektif pada 9 Februari 2013 akan menyuntikkan 180 miliar rupee ke sistem perbankan.

India menjadi negara besar pertama di Asia yang melonggarkan kebijakan moneternya pada tahun ini setelah tingkat inflasi turun ke level terendah dalam 3 tahun terakhir dan pemerintah menyerukan penurunan suku bunga perbankan.

Tingkat inflasi India tercatat sebesar 7,18% pada Desember 2012, tertinggi di antara negara-negara berkembang besar yang tergabung dalam BRIC, yakni Brazil, Rusia, India, dan China.

Namun, meskipun biaya hidup naik lebih dari 7%, RBI menyatakan masih ada ruang untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Bank sentral India itu juga menurunkan target tingkat inflasinya.

"Inflasi yang mereda dan situsasi fiskal yang lebih baik menciptakan ruang bagi pemangkasan suku bunga acuan," kata Saugata Bhattacharya, ekonom Axis Bank Ltd. di Mumbai.

Rupee telah menguat lebih dari 1% terhadap dolar AS sejak pertengahan September 2012, saat Perdana Menteri India Manmohan Singh mulai mengambil kebijakan pengurangan subsidi, penarikan investasi asing, dan percepatan proyek infrastruktur.

"Namun, bank sentral akan berhati-hati untuk melonggarkan kebijakan lagi karena ada kekhawatiran akan inflasi yang melonjak serta defisit neraca berjalan dan fiskal yang tinggi," kata Bhattacharya.  (Bloomberg/ara/ra)
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Rustam-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top