Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERINGATAN DINI BENCANA: Media sosial berperan penting

JAKARTA—Informasi terkait bencana banjir Jakarta yang tersebar di sosial media dinilai penting untuk sistem peringatan dini (early warning system/EWS) termasuk membantu penanganan korban. Sayang informasi ini kerap tak terakomodasi dengan baik
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 Januari 2013  |  16:02 WIB

JAKARTA—Informasi terkait bencana banjir Jakarta yang tersebar di sosial media dinilai penting untuk sistem peringatan dini (early warning system/EWS) termasuk membantu penanganan korban. Sayang informasi ini kerap tak terakomodasi dengan baik lantaran tidak ada konsolidasi pihak-pihak terkait.

Peneliti Senior ICT Watch Donny BU mengatakan teknologi informasi penting untuk mendukung langkah mitigasi bencana termasuk banjir yang tengah melanda sebagian wilayah Jakarta. Menurut dia, informasi yang tersebar di Internet cukup banyak dan seharusnya dapat digunakan untuk merespons bencana.

Dia mengatakan, dari pengalaman di sejumlah kasus bencana, justru kekuatan sosial yang efektif dalam penanganan. “Pemerintah itu kan cenderung birokratis. Lihat saja bagaimana saat bencana Merapi di Jogja atau sekarang banjir di Jakarta, kekuatan sosial sangat berpengaruh,” ujar dia kepada Bisnis, Minggu (20/1/2013).

Dia mencontohkan penyebaran informasi banjir melalui Twitter. Meski sederhana, kata dia, media sosial ini dapat digunakan efektif untuk sistem peringatan dini. Donny mencontohkan akun @poskodpu yang kerap meng-update kondisi banjir di Jakarta. “Kalau misalnya Pak Lurah juga punya akun itu dan mengetahui informasinya, tentu respons lebih cepat. Ini contoh yang praktik dan sederhana saja,” kata dia.

Dia mengatakan, sejatinya pemerintah telah memiliki basis dukungan yang cukup besar dalam penanganan bencana. Selain informasi yang melimpah, bantuan yang tersedia juga melimpah. Sayang, penyebaran informasi yang tidak terkonsolidasi kerap menjadi penghambat.

Dia berharap pemerintah memfasilitasi pengumpulan informasi itu untuk ditata lebih terstruktur sehingga penanganan bencana jauh lebih baik. Menurut dia, keberadaan relawan informasi tak kalah penting dari relawan di lapangan. Fungsi mereka adalah menyaring informasi yang beredar dan menyusunnya kembali sehingga lebih informatif.

Selama ini, kata Donny, sejumlah lembaga aktif terlibat dalam penanganan bencana dengan menyediakan informasi dan mengelola sistemnya. Beberapa contohnya adalah Air Putih, Lentera dan Jalin Merapi.

Tak hanya dukungan dari sejumlah lembaga sosial, menurut Donny upaya mitigasi bencana dan membangun early warning system juga dimudahkan dengan keberadaan aplikasi dan piranti lunak yang tersedia gratis. Pemanfaatan aplikasi itu juga cukup sederhana meski sangat tergantung pada ketersediaan data.

“Ada Google Maps misalnya. Layer-nya bisa dipakai untuk menunjukkan wilayah mana saja yang dilanda banjir. Hanya butuh data yang tentu sangat banyak tersedia di Internet khususnya sosial media,” kata dia.

Contoh aplikasi lainnya adalah Ushahidi yang berfungsi hampir sama dengan Google Maps. Aplikasi itu, kata Donny, tersedia gratis karena dikembangkan berbasis open source. Menurut dia, aplikasi ini telah diadopsi komunitas Lentera yang menggunakannya untuk menyediakan informasi banjir di Jakarta. (39/Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Galih Kurniawan

Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top