Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BANJIR JAKARTA: Bisnis properti menggila, salah satu penyebabnya

JAKARTA: Pesatnya pertumbuhan bisnis properti sejak 1980-an di Jakarta dinilai menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Ibu Kota karena berkurangnya daerah resapan air dan makin cepatnya penurunan permukaan tanah.
- Bisnis.com 19 Januari 2013  |  08:32 WIB

JAKARTA: Pesatnya pertumbuhan bisnis properti sejak 1980-an di Jakarta dinilai menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Ibu Kota karena berkurangnya daerah resapan air dan makin cepatnya penurunan permukaan tanah.

 
Ketua Visi Indonesia 2033 Andrinof Chaniago dalam akun twitternya @andrinof_a_ch memaparkan gencarnya bahwa bisnis properti pada akhir 1980-an membuat jumlah situs, waduk serta rawa yang menjadi daerah resapan air menjadi berkurang.
 
"Alih fungsi lahan di DAS Ciliwung [dan lahan di Jabar, umumnya] berlangsung kencang sejak akhir thn 1980-an #BanjirJkt," katanya.
 
Andrinof menambahkan data terukur ttng alih fungsi DAS n Daerah Tangkapan Air agak sulit ditemukan. Tapi utk indikasi, lihat data alih fungsi sawah #BanjirJkt.
 
Dia memaparkan alih fungsi lahan di Jabar pada 2000-an tercatat sekitar 4.000 hektar per tahun dan ini bisa dilihat sebagai indikator alih fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Daerah Tangkapan Air (DTA). 
 
Sedangkan di Jakarta, pertumbuhan pesat proyek properti penyedot air tanah menyebabkan laju penurunan permukaan tanah semakin cepat. 
 
Menurut Andrinof kondisi DAS dan DTA pada 13 sungai yang mengalir ke Jakarta dan kondisi permukaan lahan Ibu Kota membuat musim hujan ekstrim semakin memperbesar potensi banjir.
 
Pertumbuhan ekonomi di kawasan Jabodetabek pada 1980-1997 juga maju pesat namun keseimbangan ekosisem dikorbankan karena sektor properti menjadi andalan.
 
"Makin padatnya bangunan di Jakarta dan sekitarnya, tampak diiringi makin padatnya bangunan hotel, villa, resort dll di Puncak #BanjirJkt," kata Andrinof. 
 
Dia menambahkan "Tanda pembangunan ekon tdk brkualitas itu: deindustrialisasi dan manjakan sektor properti. Itu yg sekarang sdg dilanjutkan!"    (ra)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rustam-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top