Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GO PUBLIC: Sido Muncul siap masuk Bursa Efek Indonesia

SEMARANG – PT SidoMuncul kini telah siap untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) paling lambat semester I tahun ini, setelah melakukan sejumlah persiapan, termasuk persetujuan keluarga.
Rachmat Sujianto
Rachmat Sujianto - Bisnis.com 16 Januari 2013  |  18:28 WIB

SEMARANG – PT SidoMuncul kini telah siap untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) paling lambat semester I tahun ini, setelah melakukan sejumlah persiapan, termasuk persetujuan keluarga.

Rencana go public in telah dimatangkan dengan meningkatkan kualitas produk, peningkatan pendapatan, perluasan pemasaran dan persetujuan keluarga, mengingat perusahaan jamu nasional itu milik keluarga.

Direktur Utama SidoMuncul Irwan Hidayat mengatakan perusahaan berencana akan melepas 10% kepemilikan saham dan rencananya sudah memasuki final dan akan direalisasi melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada semester I/2013.

Dia menjelaskan proses internal saat ini sudah rampung baik persetujuan keluarga,  kajian serta melihat tren pasar mana yang paling seksi pada 2013. Perusahaan, lanjutnya, berencana melepas saham 10% itu, dengan IPO per lembar saham nilai nominalnya Rp1000.

Perusahaan ingin menjadi terbuka guna memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memiliki perusahaan jamu sebagai aset nasional.

“Dengan menjadi perusahaan publik, kami menjadi lebih transaparan, akuntabel, responsibel, lebih fair. Jadi ini akan meningkatkan kualitas perusahaan jamu dan obat herbal SidoMuncul,” ujarnya kepada Bisnis Rabu (16/1/2013)

Hasil penjualan 10% saham itu, kata Irwan, akan digunakan untuk pembelian sejumlah mesin industri farmasi dan obat herbal, sebagai upaya untuk memperkuat SidoMuncul menjadi industri jamu dan obat herbal terbesar di tingkat Asean.

Irwan belum bersedia menyebutkan kebutuhan dana segar dari penjulan saham dan jumlah lembar saham yang dilepas itu. Namun, dia menambahkan yang jelas perusahaan membutuhkan penambahan modal di atas Rp500 miliar.

Dalam pertumbuhannya SidoMuncul melaju pesat, bahkan sepanjang 2012 perusahaan yang berbasis di Desa Bargas, Kabupaten Semarang itu pendapatan mengalami kenaikkan 60% dari tahun sebelumnya.

Menurutnya, penjualan saham IPO akan memprioritaskan penawarawan kepada semua karyawan SidoMuncul dan para distributornya, selain masayarakat umum. Perusahaan yang didirikan pada 11 November 19951 ini kini memiliki sebahyak 3.500 tenaga kerja dengan memproduksi sebanyak 190 item lebih dan didukung sekitar 90 distributor.

Produk andalan SidoMuncul adalah Kuku Bima Energi, bahkan produk tersebut telah menduduki peringkat kedua untuk jenis minuman suplemen serupa. SidoMuncul merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan minuman energi dengan rasa orisinil, anggur, jambu, jeruk, kopi dan teh.

Penjualan Kuku Bima Energi dari waktu ke waktu mengalami peningkatan yang signifikan hingga mampu memberikan kontribusi besar bagi perusahaan jamu itu.

Selain Kuku Bima Energi, produk jamu atau herbal SidoMuncul di antaranya Tolak Angin. Kedua produk tersebut  terus berkembang bersamaan dengan tumbuhnya pasar jamu nasional.Omzetnya diperkirakan mencapai Rp5 triliun.

Sementara di Jateng saat ini, baru ada empat perusahaan yang sudah melantai di bursa, yakni PT Phapros Tbk, PT Texmaco Perkasa Engineering, PT Apac Inti Corpora, dan PT Indo Acidatama.

Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Semarang Cahyanto Kristiadi mengatakan dari 15 perusahaan yang dinilai memenuhi syarat untuk go public, baru empat yang merespons, yakni tiga bergerak di bidang manufaktur dan satu jasa pengiriman paket.

“Kami telah mengirim surat kepada 15 perusahaan yang dinilai memenuhi persyaratan untuk melantai di bursa saham, tapi baru empat yang menanggapi, termasuk PT Siba Surya yang berfgerak di bidang transportasi,” ujarnya.

Meski banyak perusahaan besar di provinsi ini yang berpotensi menjadi calon emiten, hingga kini mereka belum berani melepas saham karena ada kekhawatiran terjadi tumpang tindih kepemimpinan. (dba/dot)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Endot Brilliantono

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top