Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MOBIL HIJAU: Harus Gunakan BBM Non Subsidi

JAKARTA – Kementerian Perindustrian akan menyiapkan beberapa peraturan turunan terkait kebijakan low cost and green car (LCGC) yang diperkirakan akan segera rampung akhir tahun ini.
Fajrin
Fajrin - Bisnis.com 18 Desember 2012  |  21:40 WIB

JAKARTA – Kementerian Perindustrian akan menyiapkan beberapa peraturan turunan terkait kebijakan low cost and green car (LCGC) yang diperkirakan akan segera rampung akhir tahun ini.

Budi Darmadi, Direktur Jenderal Industri Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, mengatakan salah satu peraturan turunan dari kebijakan tersebut adalah kewajiban penggunaan mesin yang mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM) beroktan 92.

Standardisasi mesin ini, lanjutnya, harus diikuti seluruh oleh seluruh prinsipal yang hendak mengikuti program mobil ramah lingkungan dengan harga terjangkau ini agar konsumsi BBM bersubsidi tidak semakin melonjak.

Menanggapi hal tersebut, Amelia Tjandra, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor, mengatakan akan mempersiapkan semua persyaratan yang dibuat pemerintah terkait kebijakan mobil ramah lingkungan tersebut.

“Kami akan ikuti segala peraturan yang ditetapkan pemerintah untuk memproduksi LCGC,” ungkapnya, Selasa (18/12).

Saat ini, Daihatsu yang telah memperkenalkan calon produk LCGC yakni Astra Daihatsu Ayla dan beberapa prinsipal lainnya seperti Toyota, Nissan, Suzuki, dan Honda masih menanti kejelasan dari peraturan tersebut.

Rencananya, pemerintah memberikan insentif bagi prinsipal yang memproduksi LCGC di dalam negeri dengan tingkat kandungan komponen lokal di atas 40% dan diharapkan dapat ditingkatkan terus mencapai 80%.

Insentif tersebut nantinya tergabung dalam aturan low carbon emission project (LCEP) bersama dengan pengembangan mobil ramah lingkungan lainnya seperti mobil listrik, hybrid, gas, dan lain sebagainya.

“Mungkin kendalanya nanti kembali lagi kepada kesadaran konsumen. Kami tidak bisa memaksa, tetapi yang jelas standarnya harus beroktan 92,” kata Budi. (if) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top