Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKONOMI SUMSEL: Pertumbuhan DPK Perbankan Lambat

PALEMBANG: Dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan Sumatra Selatan menunjukan perlambatan pada September 2012 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas andalan provinsi tersebut di pasar global.Bank
Dimas Priyanto
Dimas Priyanto - Bisnis.com 30 Oktober 2012  |  19:13 WIB

PALEMBANG: Dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan Sumatra Selatan menunjukan perlambatan pada September 2012 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas andalan provinsi tersebut di pasar global.Bank Indonesia Wilayah VII Sumsel mencatat perbankan Sumsel telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp53,24 triliun pada September  2012 atau hanya tumbuh 8% dibanding September tahun lalu yang mencapai Rp49,21 triliun.Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan BI Wilayah VII Sutikno mengatakan perlambatan ini tidak terlepas dari penurunan kinerja komoditas unggulan Sumsel seperti karet dan kelapa sawit.“Meskipun tumbuh, namun pertumbuhannya lambat dari tahun lalu.  Harga komoditas masih kurang bagus dan berdampak ke DPK,” katanya, Selasa (30/10).Dia melanjutkan dilihat dari jenis simpanannya, deposito telah menurun 3% dibandingkan September 2011. Simpanan berjangka yang ada di perbankan Sumsel pada September 2012 mencapai Rp21,19 triliun sementara pada tahun lalu sebesar Rp21,84 triliun.Adapun dana yang ditaruh dalam bentuk tabungan naik 13% secara yoy, yaitu sebesar Rp21,83 triliun dari sebelumnya Rp19,25 triliun.Sutikno menambahkan hal berbeda terjadi untuk penyaluran kredit perbankan di Sumsel yang justru tumbuh sampai 29% pada September 2012. Saat ini nilai outstanding kredit perbankan mencapai Rp43,31 triliun.“Pertumbuhan tahunan kredit perbankan Sumsel bahkan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 24% pada posisi Agustus 2012,” paparnya.Dia mengatakan sebagian besar kredit yang disalurkan merupakan kredit produktif, yaitu modal kerja dan investasi yang masing-masing telah mencapai Rp17,16 triliun dan Rp9,31 triliun. Adapun pertumbuhan untuk kedua kredit itu sebesar 26% dan 40,5%.“Kredit yang diberi perbankan di Sumsel masih didominasi oleh kredit produktif. Untuk kredit konsumsi sendiri mencapai Rp16,83 triliun atau tumbuh 26,5%,” katanya.Menurut dia, pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK menyebabkan rasio loan to deposit (LDR) perbankan di Sumsel mencapai 81,35%.  LDR ini lebih tinggi dibanding September 2011 sebesar 68,19%.“Bahkan kalau kita juga menghitung penyaluran kredit dari perbankan di luar Sumsel, LDR-nya bisa mencapai 105%,” katanya.Terkait rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) perbankan di Sumsel, bank sentral tersebut mencatat ada kenaikan NPL pada September 2012 dibanding periode yang sama pada tahun lalu.  Saat ini, NPL perbankan Sumsel sebesar 3,34% atau naik dari rasio sebelumnya yang hanya 2,40%.“Memang menunjukkan peningkatan tapi masih dalam range yang aman, masih di bawah 55,” ujarnya.Untuk kredit usaha mikro, kecil, dan menengah yang disalurkan perbankan telah mencapai Rp15,77 triliun atau meningkat sebesar 30%.“NPL untuk kredit UMKM ini malah lebih baik jadi 2,49%  jika dibanding tahun laluyang sebesar 4,27%,” ujarnya. (19/Bsi) 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top