Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

UANG PALSU: Tujuan Peredaran Mengarah Ke Politis, Hancurkan Perekonomian

BANDUNG: Kejahatan pemalsuan uang setiap tahunnya semakin mengkhawatirkan dan tujuannya mengarah ke politis yakni menghancurkan perekonomian nasional. 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Oktober 2012  |  17:13 WIB

BANDUNG: Kejahatan pemalsuan uang setiap tahunnya semakin mengkhawatirkan dan tujuannya mengarah ke politis yakni menghancurkan perekonomian nasional. 

Sekretaris Umum Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) Brigjen Tjetjep Agus S mengatakan selama 2012 pihaknya mencatat Rp5 miliar uang palsu yang terdiri dari pecahan Rp100.000 sebanyak 61.000 lembar. 

"Tujuan pembuatan uang palsu bukan sekadar untuk memperkaya diri sendiri, tapi juga untuk menghancurkan perekonomian secara politis,"   ujarnya saat menjadi pembicara dalam Semiloka dan Diskusi Panel Tentang Penanggulangan Pemalsuan Uang Rupiah di Kantor Bank Indonesia Wilayah IV Jabar-Banten, Kamis (11/10).Menurutnya, tanggung jawab terhadap kejahatan pemalsuan uang bukan hanya tugas Bank Indonesia dan pihak kepolisian, tetapi perlu keterlibatan seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memerangi kejahatan tersebut.Untuk itu, katanya, semua pihak diminta ikut memerangi kejahatan pemalsuan uang rupiah agar peredarannya dapat dicegah dan dikurangi. Masyarakat yang menemukan uang palsu diminta untuk segera melaporkannya."Dalam upaya menangkal peredaran uang palsu di masyarakat, beberapa prinsip dasar perlu diperhatian dengan menciptakan uang rupiah baik kertas maupun logam yang mempunyai kualitas pengamanan yang sempurna dan berteknologi tinggi sehingga sulit untuk ditiru," tuturnya.Dia menambahkan peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian uang rupiah harus digencarkan baik melalui sosialisasi dan penyebaran brosur ataupun iklan di media massa. "Seluruh masyarakat wajib mengetahui ciri-ciri keaslian uang rupiah." (k6/if)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Hedi Ardia

Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top