Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BBM BERSUBSIDI: SPBU di daerah ogah dilibatkan pengawasan

MALANG: Kalangan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) keberatan dilibatkan dalam pengawasan program pembatasan bahan bakar minyak (BBM) dengan larangan mobil dengan cc 1.500 ke atas mengkonsumsi premium.Heryadi Santoso, Pemilik SPBU Jl Panglima
News Editor
News Editor - Bisnis.com 15 Mei 2012  |  17:26 WIB

MALANG: Kalangan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) keberatan dilibatkan dalam pengawasan program pembatasan bahan bakar minyak (BBM) dengan larangan mobil dengan cc 1.500 ke atas mengkonsumsi premium.Heryadi Santoso, Pemilik SPBU Jl Panglima Sudirman mengatakan pengelola SPBU di Malang berkali-kali diundang Pertamina setempat untuk membahas rencana program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi."Namun masih belum jelas bagaimana realisasi dari program tersebut di lapangan. Pertamina masih belum menjelaskan secara rinci," katanya, Selasa 15 Mei 2012.

Tampaknya, lanjut dia, Pertamina menginginkan bahwa pengelola SPBU ikut terlibat dalam pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi. Bentuknya seperti tidak melayani mobil dengan cc 1.500 ke atas untuk membeli premium.Permintaan tersebut, menurut dia, sulit dipenuhi pengelola SPBU. Pertimbangannya karena berarti petugas akan berhadapan langsung dengan masyarakat."Mestinya yang melakukan pengawasan itu pemerintah, bukan petugas SPBU karena tugas dari SPBU hanya menjual BBM."Dia memperkirakan, program tersebut sulit akan terealisasi. Pertimbangannya karena selisih antara BBM  bersubsidi dan nonsubsidi sangat besar.Kemungkinan pemilik kendaraan dengan cc 1.500 ke atas membeli premium sangat besar dan petugas SPBU sulit mencegahnya karena khawatir konflik dengan konsumen.Pembatasan dalam artian pembatasan kuota BBM bersubsidi pada SPBU, menurut kata dia, juga tidak efektif. Konsumen biasanya akan mencari SPBU yang kuotanya stok masih banyak."Pembatasan kuota BBM untuk SPBU sebenarnya pernah diberlakukan pada Pertamina pada beberapa bulan menjelang akhir 2011. Bentuknya kuota BBM per SPBU dikurang 30% per dua hari sekali. Namun hasilnya tidak efektif."Karena itulah, menurut Heryadi, program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akan efektif jika ada produk alternatif dengan harga. Contohnya penggunaan bahan bakar gas (BBG).Di Malaysia dan Singapura, penggunaan BBG sudah lazim. Pasalnya harga BBM terpaut jauh dengan harga minyak bumi. Sopir-sopir taksi di sana diwajibkan menggunakan BBG.Karena itulah, mestinya pemerintah serius menggarap konversi penggunaan bahan bakar dari minyak bumi ke BBG. Namun problemnya, alat converter dari tangki BBM ke BBG biaya terlalu mahal. (ra)

 

 

BACA JUGA:

>> MARKET CLOSING—IHSG Turun Tipis 7,42 Poin

>>Jakarta Composite Index Slips 1.02% To 4,013.27

>>REKAP MARKET: Inilah Risalah Berita Market

>> Duh! Konser Lady Gaga dilarang polisi

10 ARTIKEL PILIHAN REDAKSI HARI INI

5 KANAL TERPOPULER BISNIS.COM

10 ARTIKEL MOST VIEWED BISNIS.COM


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Choirul Anam

Editor : Basilius Triharyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top