HOLTIKULTURA: Bali siapkan Rp14,7 miliar untuk varietas kebun

 
Matroji | 04 April 2012 19:03 WIB

 

DENPASAR: Dinas Perkebunan Bali menganggarkan dana sebesar Rp14,7 miliar pada 2012 untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas sejumlah tanaman andalan penopang ekspor. 
 
Dewa Made Buana DwuranKepala Dinas Perkebunan Provinsi  Bali, mengatakan pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp7 miliar pada 2012 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2012.
 
Dana itu masih ditunjang dengan suplai dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian sebesar Rp7,6 miliar. 
 
“Dana itu digunakan untuk mendongkrak kualitas dan kuantitas tanaman perkebunan,” katanya hari ini.
 
Secara keseluruhan, lanjutnya, dana Ditjen Perkebunan yang bersumber dari APBN itu mengalami penurunan dibanding 2011 yang mencapai Rp19,8 miliar. Sementara itu, dana yang bersumber dari APBD Bali tercatat naik dari Rp6 miliar pada 2011 dan Rp5,8 miliar pada 2010. 
 
Dana itu, katanya, akan diprioritaskan untuk mengembangkan kebun induk kopi jenis arabika kopyol di kawasan Desa Kerta, Kabupaten Gianyar seluas 2 hektare. Selain itu, intensifikasi tanaman kakao di Kabupaten Jembrana dan Tabanan 300 hektare.
 
Pengembangan wilayah juga dilakukan untuk membudidayakan tanaman kapas seluas 200 hektare di Kabupaten Buleleng dan 300 hektare Kabupaten Karangasem. Adapun untuk tanaman nilam ditambah seluas 20 hektare. “Seluas 10 hektare di Petang Kabupaten Badung dan 10 hektare di Selat Bebandem Karangasem.”
 
Untuk tanaman kelapa, tambahnya, akan diperluas menjadi 300 hektare di Kabupaten Klungkung dan 200 di Karangasem. “Adapun sisanya untuk 400 hektare perluasan tanaman jambu mente di Karangasem.”
 
Fokus ke Kintamani
 
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Mukti Sardjono mengatakan pemerintah pusat juga akan memfokuskan pengembangan tanaman kopi di daerah Kintamani, Kabupaten Bangli seluas 1.200 hektare. 
 
Penambahan lahan itu untuk menggenjot porsi ekspor Arabika secara nasional pada 2012. Luasan lahan diatas 800 meter diatas permukaan laut itu diklaim mampu menambah kuantitas kopi pada 3 hingga 4 tahun mendatang. 
 
Terkait pengelolaan, kata Mukti, pemerintah akan menyerahkan sepenuhnya pada petani kopi lokal yang terbukti mampu mengelola kopi dari berupa tanaman hingga siap ekspor. "Sejumlah pelatihan pada petani kopi untuk standar penjaminan mutu pun juga disiapkan untuk menggenjot ekspor."
 
Secara nasional, Direktorat Jenderal Perkebunan mengalokasikan dana sebesar Rp150 miliar untuk mengadakan intensifikasi tanaman kopi di seluruh Indonesia pada 2012. Dana itu difokuskan untuk meremajakan tanaman kopi jenis arabika dan robusta. "Sebanyak 80% dari anggaran akan difokuskan untuk kopi jenis Arabika," kata Mukti.
 
Mukti menjelaskan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 itu juga tercatat naik dibanding 2011 yang tidak lebih dari Rp5 miliar. Dana itu akan digunakan untuk memperluas lahan tanaman kopi dan meremajakan tanaman yang sudah ada di seluruh Indonesia. 
 
Untuk panen varietas kopi 2012, Direktorat Jenderal Perkebunan juga mengaku masih dibayangi buruknya cuaca yang berpotensi menurunkan kualitas dan kuantitas tanaman. "Panen kopi pada 2011 merosot akibat anomali musim," katanya.
 
Tercatat, panen kopi 2011 turun menjadi 633.991 ton dibanding panen 2010 yang mencapai 686.921 ton. Angka capaian panen itu mempengaruhi produktivitas lahan pada 2011 yang hanya memproduksi 672 kilogram per hektare. Padahal pada 2010 mencapai 780 kilogram per hektare.
 
Data Direktorat Jenderal Perkebunan melengkapi capaian pada 2011 sebanyak 487.230 adalah kopi jenis robusta. Sementara sisanya jenis Arabika. Kopi arabika mengalami pertumbuhan yang lebih signifikan dibanding robusta. Jenis arabika mampu tumbuh 9,93% per tahun sedangkan robusta hanya 3,58%. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top