Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kantin dicurigai sebagai penyebar virus hepatitis A

 
Adhitya Noviardi
Adhitya Noviardi - Bisnis.com 11 November 2011  |  18:59 WIB

 

JAKARTA: Para orangtua dan sekolah diminta serius mengawasi makanan dan jajanan yang dikonsumsi anak, di rumah maupun di sekolah, seiring dengan banyaknya kasus hepatitis A yang menimpa pelajar belakangan ini.
 
Pekan lalu merebak kasus  virus hepatitis A di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Depok, yang menimpa sebanyak 90 siswa. Mereka terserang penularan hepatitis A, diperkirakan melalui makanan.
 
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memperkirakan asal muasal merebaknya virus hepatitis di SMK Negeri 2 Depok, ada di kantin sekolah. Dalam kasus ini, Kementerian Kesehatan telah menerjunkan tim terpadu di sekolah itu. 
 
"Penyelidikan kita fokuskam di kantin sekolah, bukan pada siswanya. Sebab, infeksi virus hepatitis A ditularkan dari makanan atau minuman, bukan dari orang ke orang," kata Menkes.
 
Menurut dia, tingkat penularan infeksi virus hepatitis sangat tergantung pada kebersihan sanitasi, kualitas air, cara memasak, dan kebersihan dari setiap individu. 
 
"Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis jenis A. Biasanya penularan melalui makanan dan minuman yang tidak sehat, serta tata cara makannya yang buruk," ujar Menkes. 
 
Sampai saat ini siswa yang menderita hepatitis A tersebut, masih mendapat pengawasan ketat dari petugas. Data terakhir menyebutkan, 90 orang terpapar virus hepatitis, 72 orang sedang dalam proses penyembuhan, 13 telah pulih, dan 4 orang dirawat di rumah sakit setempat.
 
Pemerintah Kota Depok bahkan telah memberlakukan status kejadian luar biasa (KLB) atas kasus tersebut, dan menghentikan kegiatan belajar mengajar hingga Senin, 14 November.
 
Walau Pemkot Depok telah melabelkan status KLB hepatitis A, Menkes meminta masyarakat untuk tidak perlu cemas. Sebab, tingkat kematian akibat penyakit hepatitis A sangat rendah. Bahkan, penyakit itu dapat sembuh dengan sendirinya. 
 
"Sebetulnya penyakit ini bisa sembuh sendiri, dengan syarat penderitanya harus istirahat. Jadi benar tindakan yang dilakukan sekolah dengan meliburkan siswanya. Setelah sehat betul-betul, para siswa baru boleh masuk. Sebab, hal itu bisa memutus mata rantai penularan," ujar Endang. (sut)
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top