Orang Indonesia 'sumbang' Rp35 triliun ke Singapura lewat hunian

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 September 2011  |  12:49 WIB

 

Kita semua tentu mafhum kalau Singapura menjadi surga bagi orang kaya Indonesia untuk menyimpan kekayaan--termasuk dalam bentuk hunian.
 
Namun, terus terang tidak terbayang dalam benak kami total harga rumah yang 'dimilki'  warga negara Indonesia di sana nilainya paling sedikit mencapai Rp35 triliun dan itu hanya selama periode tahun lalu. Kami gunakan tanda petik di kata dimilki karena memang sebagian properti dibeli lewat jalur kredit.
 
Dari mana angka Rp35 triliun itu? Ini hitung-hitungan kasarnya. Berdasarkan data yang dilansir Real Estate Information System (Realis) milik Urban Redevelopment Authority of Singapore, ada 1.706 orang Indonesia yang membeli rumah di Negeri Singa sepanjang 2010.
 
Nah, kisaran harga rumah yang dibeli adalah dari S$0-S$1 juta per unit, lalu S$1 juta-S$1,5 juta, S$1,5 juta-S$5 juta, dan terakhir kategori di atas S$5 juta per unit. Dengan nilai tukar paling rendah Rp7.000 untuk S$1 maka range harga itu adalah Rp0-Rp7 miliar sampai Rp35 milar ke atas.
 
Untuk gampangnya, kita ambil angka tengah untuk mencari rata-rata harga hunian yang dibeli yaitu Rp7 miliar sampai Rp35 miliar dan akan kita dapat angka Rp21 miliar.
 
Selanjutnya kita akan dapat angka Rp35,826 triliun dari hasil perkalian jumlah WNI yang membeli rumah (1.706 orang) dengan rata-rata harga hunian (Rp21 miliar) itu. Kami harus ulangi, Rp35,826 triliun uang WNI yang harus 'melayang' hanya sepanjang tahun lalu untuk membeli hunian di Singapura.
 
Itu baru angka tahun 2010. Data Realis menyebutkan sampai dengan bulan ini ada  sebanyak 40 orang WNI yang membeli properti seharga di atas Rp35 miliar-terbanyak dalam daftar pembeli asing-yang totalnya sama dengan Rp1,4 triliun.
 
Kalau Anda tanyakan kepada kolega yang kebetulan memiliki rumah di Singapura sepertinya Anda akan mendapatkan jawaban yang sama dengan yang kami terima. 
 
"Ngurusnya [pembelian] gak ribet, sekalian investasi, dan aman," begitu kata Rindu, sebut saja begitu, yang kebetulan anaknya menuntut ilmu di Singapura.
 
Mayoritas pembelian rumah oleh WNI di Singapura dilakukan melalui agen. "Sepanjang syarat-syarat yang diminta bisa dilengkapi, ngurusnya bisa cepat termasuk kredit banknya," tutur Rindu yang membeli rumah di kawasan Alexandra Road.
 
Kemudian, Rindu memberikan ilustrasi sebagai alasan utama dia membeli rumah di sana. Kalau dia menyewa tempat tinggal dengan dua kamar tidur, setiap bulan dia harus membayar sekitar S$3.800 atau Rp26,6 juta. 
 
Berarti, kalau sampai anaknya menyelesaikan pendidikan sekitar 5 tahun, dia harus mengeluarkan Rp1,596 miliar hanya untuk sewa rumah. "Mending gue beli rumah, sekalian investasi," katanya sambil menjelaskan bahwa suaminya juga sering pergi-pulang Singapura.
 
Siang Hadiwijaya, pengusaha, yang sudah punya hunian di sana sejak 1995 juga bercerita serupa. "Kredit gampang, bunga rendah, regulasi [kepemilikan] bisa sampai 70 tahun, keamanan investasi," begitu alasan yang dia sebut.
 
Menurut Siang, lokasi yang menjadi incaran WNI adalah di distrik 9,10, 11-sama seperti yang tercantum dalam data Realis. "Sekarang harga apartemen saya sudah naik 300%."
 
Alasan-alasan yang dikemukakan dua orang di atas senada dengan apa yang disampaikan oleh mantan Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Teguh Satria tentang mengapa properti Singapura diminati oleh warga negara Indonesia. 
 
"Karena alasan bisnis dan kemudahan pembelian properti di Singapura dari aspek hukumnya serta kenyamanan tinggal," ujarnya beberapa waktu lalu.
Fakta bahwa Singapura adalah jembatan bisnis di mana sebagian besar bisnis di dunia melewati negeri itu membuat properti di sana memang pantas menjadi pilihan untuk berinvestasi.
 
General Manager Wing Tai Holdings Limited, perusahaan properti  Singapura, Len Siew Lian, mengakui banyaknya warga negara asing yang membeli properti di Singapura, bahkan persentasenya lebih banyak dari warga lokal.
 
"Banyak warga negara Indonesia yang membeli properti kami. Dilihat dari segi investasi, properti Singapura memberikan imbal hasil mulai dari 3% sampai dengan 4%, bunga pinjaman bank di Singapura juga cukup rendah yakni hanya 1,2%," katanya di Singapura, beberapa waktu lalu.
 
Anda tentu tidak asing dengan segala penjelasan Rindu dan Siang sebagai pemilik hunian, serta Teguh dan Len sebagai pelaku bisnis properti.
 
Kami tergelitik dengan pernyataan seorang teman terkait dengan fakta begitu besarnya nilai hunian Singapura yang dibeli oleh orang Indonesia.
 
"Kalau korupsi di Indonesia dan juga Malaysia tinggi, pasti banyak properti Singapura yang dibeli oleh warga kedua negara itu," begitu dia menjelaskan.
 
Hmm, kesimpulan sementara yang masih perlu pembuktian. Bagi kami, hipotesis itu cukup menggelitik dan memaksa melihat ulang lagi data Realis.  Dan, ternyata, orang Indonesia dan Malaysia memang pembeli asing terbesar di Singapura, selain China. Tentu, data-data tersebut tidak harus langsung kita anggap sebagai pembuktian dari hipotesis sang teman.
 
Yang jelas, pada 2000, jumlah WNI yang membeli rumah di Singapura cuma 430 orang. Pada 2010, jumlahnya melompat menjadi 1.706 dan 2011 sampai dengan bulan lalu sudah 847 orang. Anda tahu toh, setelah era reformasi banyak orang kaya baru di Indonesia tetapi lewat jalur haram.
 
Lalu kami teringat dua anak muda Indonesia; Gayus H. Tambunan, pegawai Ditjen Pajak golongan IIIA, dan M. Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat.
 
(eries.adlin@bisnis.co.id/algooth.putranto@bisnis.co.id) Reportase: Lahyanto Nadie
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Sutan Eries Adlin & Algooth Putranto

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top