Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Persediaan garam di petani Jawa timur menipis

SURABAYA: Kalangan petani garam di Madura dan di Surabaya Barat mulai memasok hasil produksi ke PT Sumatraco Langgeng Makmur dengan harga berkisar Rp550 – Rp600 per kg, seiring berlangsungnya panen bahan pengasin itu sejak awal Juli lalu.Ketua
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 Agustus 2011  |  12:34 WIB

SURABAYA: Kalangan petani garam di Madura dan di Surabaya Barat mulai memasok hasil produksi ke PT Sumatraco Langgeng Makmur dengan harga berkisar Rp550 – Rp600 per kg, seiring berlangsungnya panen bahan pengasin itu sejak awal Juli lalu.Ketua Forum Komunikasi Petani Garam Jawa Timur Mashuri mengatakan para petani garam di provinsi tersebut pada tahun ini tidak mengalami kesulitan penjualan, menyusul besarnya daya serap perusahaan garam beriodium dan importir.“Gudang-gudang produsen garam beriodium dan importir di Surabaya seperti PT Sumatraco Langgeng Makmur, PT Susanti Megah, PT Garindo, sudah dibuka untuk menyerap garam rakyat, sehingga stok di tingkat petani atau di ladang-ladang garam saat ini minim,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Sumitro, petani garam asal Tambak Osowilangun, Surabaya Barat, menyebutkan pihaknya sejak Juli lalu telah memasok hasil panen garam ke PT Sumatraco di kawasan Perak, Surabaya, sebanyak 6.000 karung (1 karung = 50 kg).Harga penjualan garam ke perusahaan itu Rp550 – Rp600 per kg kualitas II (KW II). “Kami telah memasok hasil panen garam ke Sumatraco sejak 20 tahun terakhir rata-rata 6.000 ton per musim panen berupa garam KW II, karena ladang di Surabaya Barat sulit menghasilkan KW I,” tuturnya kepada Bisnis, hari ini.Sebelumnya, Wakil Dirut PT Sumatraco Langgeng Makmur Sanny Tan menyebutkan pihaknya hingga 16 Agustus baru menyerap garam rakyat sebanyak 5.219 ton, dan pabrik milik perusahaan itu hanya beroperasi 30% dari kapasitas normal. Hal itu diakibatkan 11.800 ton garam impor milik Sumatraco disegel pemerintah (Bisnis, 24 Agustus).Menurut Mashuri, besarnya penyerapan garam rakyat di kalangan pabrikan atau importir terkait dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan produsen garam beriodium dan importir juga membeli garam lokal. Sementara volume panen garam rakyat di sentra-sentra produksi bahan pengasin itu di Jatim yakni di Madura (Kab. Sampang, Kab. Pamekasan dan Kab. Sumenep) serta di Surabaya Barat tahun ini dipastikan lebih tinggi dibandingkan pada 2010.Hal itu disebabkan musim kemarau tahun ini lebih panjang, yang dibuktikan telah dimulainya panen garam sejak awal Juli lalu dan diperkirakan berlangsung selama 4,5 bulan. Kondisi berbeda terjadi pada 2010.Data yang diperoleh Bisnis dari Asosiasi Petani Garam (Aspag) Sampang menunjukkan areal ladang garam rakyat di Kab. Sampang seluas 4.256 hektare dengan hasil panen dalam kondisi normal berkisar 70 ton hingga 80 ton per hektare per musim panen (4 bulan). Sementara di Kab. Pamekasan 888 hektare dan di Kab. Sumenep 1.500 hektare.Bisnis tidak mendapatkan data areal garam rakyat di Surabaya Barat, tetapi kawasan itu diperkirakan masih menghasilkan panen garam puluhan bahkan ratusan ton tahun ini. Namun, dipastikan volume panen garam selama 10 tahun terakhir terus merosot, karena lahannya semakin tergerus pembangunan pergudangan.(K22/mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Adam A. Chevny

Editor : Intan Permatasari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top