Ada yang mudah kok milih susah

Bar, cepetan dtg ke kafe, ada tamu penting di diskusi kita, jgn telat bunyi sebaris kalimat yang ada di pesan BB Subarry Manilauw membuatnya terhenyak dari lamunannya.
Adam A. Chevny
Adam A. Chevny - Bisnis.com 27 Mei 2011  |  17:12 WIB

Bar, cepetan dtg ke kafe, ada tamu penting di diskusi kita, jgn telat bunyi sebaris kalimat yang ada di pesan BB Subarry Manilauw membuatnya terhenyak dari lamunannya.

Siapp bang David siapa sih tamunya? balas Barry.

Temen Noy tuh dia gak blg siapa pokoknya penting, katanya. Aku dah otw neh.. timpal David sesaat kemudian.

Tak berapa lama, sampailah Subarry dan David hampir bersamaan di Dapur Nimatnya, kafe langgananan mereka, tempat tiga sekawan tersebut menyelenggarakan obrolan rutin yang membahas aneka topik.

Kenalin, ini Pak Bambang Susantono, Wakil Menteri Perhubungan. Kalian tentu sudah tahu dong, kata Noyorono memperkenalkan tamunya.

Selamat sore Mas David.. Mas Barry.. Saya sudah diceritain tentang Anda oleh Mas Noy kok. Ini bukan diskusi serius lho, kita ngobrol santai saja, ujar Bambang sambil menyalami kedua geng anggota diskusi partikelir tersebut.

Wah, kalau beliau sih saya sering melihatnya di media.. Selamat sore, Pak Bambang, sahut David. Kalau nggak salah, dulu di Kementerian Perekonomian ya, sebelum di Perhubungan.

Yak.. Betul. Saya juga aktif di lingkungan Masyarakat Transportasi Indonesia, jawab Bambang sembari nyeruput teh nasgithel [panas, legi,, kenthelpanas, manis, kental] di depannya.

Mumpung ada Pak Bambang di sini, kita boleh nanya sekaligus ngritik kebijakan pemerintah di bidang transportasi kan Soalnya, makin hari urusan transportasi kita kok makin amburadul kayaknya. Nggak papa kan Pak, ucap Subarry bersemangat.

Wah, silakan.. silakan.. Di sini kita ngobrol bebas, kan tidak sedang wawancara di media ha ha ha ujar Bambang mencairkan suasana yang semula agak kaku itu.

Mereka ini udah lama ngampet soal kenapa sih negara kita ini kok tidak kunjung mampu menyelesaikan persoalan transportasi, baik di pusat maupun di daerah. Yang tampak justru kemacetan di mana-mana makin parah. Bagaimana ini sebenarnya, kata Noyorono.

Kemacetan itu bisa dilihat dari sisi positifnya juga lho. Berarti pertumbuhan ekonomi sedang berlangsung, kan. Artinya, terjadi peningkatan perpindahan orang, barang, dan jasa. Sayangnya, di negara kita, kegiatan tersebut belum dapat berlangsung secara mudah, murah, dan cepat. Nah, moda yang dapat memenuhi prinsip tersebut ya.. kereta api, ungkap Bambang.

Iya juga ya.. Kalau dipikir-pikir, kenapa negara-negara maju malah gencar membangun sistem angkutan kereta api, mungkin karena alasan itu tadi ya. Di Eropa, kereta api merupakan tulang punggung transportasi dan uenak tenan bepergian menggunakan angkutan tersebut di sana.. kata David.

Betul, Mas. Berdasarkan UU 23/2007 tentang Perkeretaapian, diatur bahwa monorel, trem, light rail train, subway, bahkan kereta gantung itu masuk dalam kategori kereta api. Moda angkutan massal berumur ratusan tahun ini memang efisien. Berdasarkan sejumlah kajian, diketahui bahwa berat muatan angkutan jalan mulai dari mobil pick-up/box hingga truk dan trailer akan membebani jalan sekitar dua hingga 32 ton. Padahal, satu rangkaian kereta api sebanyak 20 gerbong mampu menanggung beban sebesar 640 ton, itu kan setara dengan 20 trailer atau 320 buah mobil pickup/box, papar Bambang.

Pantesan, jalan raya kita yang konon cuma mampu nahan beban maksimal 10 ton jadi sering rusak ya. Mana polusinya lebih tinggi dan rawan kecelakaan lagi.. Terbukti juga, akhir-akhir ini, ketika angkutan berat dilarang masuk tol dalam kota, arus lalu lintas lebih lancar. Begitu truk dan trailer itu diizinkan kembali, mampus dah.. kemacetan Jakarta menjadi-jadi, timpal Subarry.

Nah, itu dia.. Amerika Serikat, negara yang terkenal dengan jejaring jalan bebas hambatan atau Interstate Highway System yang dibangun secara ekstensif sejak 1956, kini mulai insyaf untuk merevitalisasi jaringan kereta apinya. Karena, dari sisi mana pun kereta api lebih efisien, ujar Bambang.

Konon, gencarnya pembangunan highway di AS itu karena lobi industri otomotif di sana ya agar dagangannya laku, sehingga pemerintah memprioritaskan jalan bebas hambatan antarnegara bagian tersebut. Mungkin itu yang ditiru di Indonesia, sehingga yang maju pembangunan jalan tol, bukan jalan kereta api.. ujar David menyela.

Saya pernah baca, bahwa di AS faktanya memang seperti itu. Ada lobi kuat dari industri otomotif yang memengaruhi pemerintah untuk menggencarkan pembangunan jalan raya interstate itu, guna mendorong tumbuhnya produksi mobil. Kalau di Indonesia, wah, saya tidak tahu, apa ada lobi seperti itu he he he.. tutur Noyorono.

Kalau AS saja menyadari kesalahannya pada masa lalu, seharusnya kita jangan menirunya lagi ya.. timpal Subarry.

Kita perlu belajar dari investor legendaris Warren Buffet.. Melihat peran penting kereta api bagi ekonomi AS pada masa datang, dia nekat menanamkan dana hampir 400 triliun rupiah untuk membeli Burlington Northern Santa Fe pada 2009 silam, tepat pada saat kebangkitan AS pascakrisis, kata Bambang. Buffet menganggap efisiensi kereta api luar biasa, karena satu galon BBM bagi kereta api dapat mengangkut 1 ton sejauh 756 km. Satu rangkaian gerbong kereta api dapat menggantikan 280 truk angkutan di jalan-jalan di AS.

Pemerintah kan pasti sudah tahu bahwa sistem jaringan kereta api lebih menguntungkan, kok tidak buru membangunnya secara masif untuk memecahkan kemacetan lalu lintas di Jakarta, misalnya. Malah, Pemerintah DKI mau membangun lebih banyak jalan tol dalam kota yang terbukti tidak menyelesaikan masalah.. ujar Noyorono.

Mungkin karena keterbatasan anggaran, Noy, sehingga belum bisa diwujudkan sepenuhnya, sela David.

Sebenarnya, kalau dari sisi anggaran tidak juga. Karena kereta terbukti efektif dan efisien, banyak kok yang berminat investasi, dan itu sudah masuk agenda pemerintah. Pemerintah sudah berkomitmen untuk mengembangkan jalur kereta api pada keenam proyek Koridor Ekonomi Baru, jadi ini masalah waktu saja, tutur Bambang.

Coba kalau jaringan kereta api kita bagus, nggak perlu tuh ribuan truk ngangkut jutaan sepeda motor ke seluruh Jawa, pasti tidak efisien kan. Juga pengangkutan hasil industri ke pelabuhan, harusnya kan bisa lebih murah melalui jaringan rel dan tidak mengganggu jalana raya, keluh Noyorono.

Betul, Mas. Ini sedang kami benahi semua. Kita sudah siapkan double-track dari Jakarta-Surabaya serta double double-track Cikarang-Jakarta yang nantinya juga untuk keperluan angkutan hasil industri. Kalau lancar, 2014 sudah bisa dimanfaatkan.. ungkap Bambang.

Kalau lancar ya Pak, seringnya tidak lancar tuh Nanti terhambat pembebasan lahan dan sebagainya Lha kebiasaan pemerintah itu ada yang mudah tapi milih susah kok.. ucap Subarry.

Padahal, kalau misalnya pemerintah ngotot mengembangkan jaringan kereta api massal untuk Jakarta dan sekitarnya, ini akan menjadi SBYs legacy lho.. Ini benar-benar peluang bagi pemerintahan Pak Beye untuk meninggalkan karya besar.. Itu kalau mau, kata Noyorono.

Serentak, ketiga pediskusi lainnya manggut-manggut. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)

Oleh Ahmad Djauhar, Wartawan Bisnis Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top