Menelusuri bursa tertua dunia (bagian II)

News Editor
News Editor - Bisnis.com 14 Desember 2010  |  08:21 WIB

AMSTERDAM: Mari kita mulai dari Beursplein 5. Ini adalah puncak perkembangan bursa selama empat abad di Amsterdam. Adalah Jos Cuypers yang mengajukan diri untuk merancang gedung itu tahun 1910. Orang ini pula yang merancang Niewe Sint Bavo, sebuah katedral terkenal di Haarlem.

Dia mewarisi bakat sebagai arsitek dari ayahnya Pj. H Cuypers yang mendesain Risjkmuseum dan Central Station di Amsterdam. Setelah selesai dibangun Desember 1913, bursa itu resmi dipakai pada 2 Januari 1914.

Pada awal tahun itu, bursa Amsterdam memperdagangkan saham dari 850 emiten luar negeri dan 700 perusahaan Belanda.

Sebagian besar emiten Belanda merupakan warisan dari peruahaan VOC yang sudah bangkrut dua abad yang silam. Sebagian besar perusahaan-perusahaan beroperasi di Indonesia. Bagi Belanda di awal abad 20, bursa sangat penting dalam menopang eksistensi kolonialismenya di Indonesia yang sekaligus memberi manfaat signifikan bagi perekonomian di negerinya.

Itu terbukti ketika pada 14 Desember 1912 Belanda serius mendirikan cabang bursa Amsterdam di Batavia. Di tingkat Asia, bursa di Batavia adalah yang tertua keempat setelah Bombay (1830), Hong Kong (1871) dan Tokyo (1878).

Sebelum memiliki gedung sendiri, seperti tertulis dalam buku Effectengids (1939) kegiatan jual beli saham dan obligasi di Batavia sudah berlangsung sejak 1880. Bahkan, tercatat pada 1892 perusahaan Belanda Cultuurmaactchappij Goalpara yang berkantor di Batavia menerbitkan prospektus terkait penjualan 400 lembar saham dengan harga 500 gulden per lembar.

Empat tahun kemudian, surat kabar Yogyakarta dengan nama Het Centrum juga menjual saham senilai 5 ribu gulden dengan harga perdana 100 gulden per lembar. Bursa Batavia saat itu berkembang pesat. Saham dan obligasi yang diperdagangkan adalah terkait perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda, baik pemerintah pusat, kota praja dan efek-efek Belanda lainnya.

Saham-saham multinasional yang ditransaksikan di Belanda juga diperdagangkan di sini, antara lain AFC Industry, American Motors, Anaconda Copper dan Betlehem Steel. Sekadar catatan Betlehem Steel adalah blue Chip do New York Stock Exchange yang masuk dalam perhitungan harga Dow Jones sejak 1928.

Selain itu obligasi dari negara lain juga dijual di bursa Batavia. Seminggu setelah bursa Batavia di buka misalnya Harian Perniagaan atau 13 Tjap It Gwe 2463 membuat berita tentang penawaran tentang obligasi tersebut.

Itoe pindjeman dikasih nama Tiong Hoa Bin Kok Pat Li Kong The yang artinya: Pinjaman dengan rente 8 pCt dari Repoebliek Tiongkok. Pindjeman itoe soeda diperkenalkan oleh Nationale Vergadering di Peking dan soeda dibikin sah serta dititahkan boeat dikeloerkan oleh President dari Repoebliek Tiongkok.

Ini Pindjeman besarnya 100 million dollar boat ini pindjeman dikeloearkan bon bon dari 1000, 100, 10 dan 5 dollar, jang disertakan nomor djalan boenjinja ada Aan Toonder Pindjeman ini dibikin aken goena pri keamanan di Tiongkok dan dikeloearkan dengan dibajar rente 8 pCt satoe boelan menoeroet itoengan Jan lek. Segala bangsa bole bli ini soerat oetang. Di Betawi Soeda ditentoekan masing-masoing perekonomian jang ternama dari orang-orang Tionghoa nanti bisa bli itoe bon bon dengan sebagituoe banjak ia poenja fonds masing-masing, kemoedian ini semoea bon nanti dijoeal lagi boeat harga dari pada siapa jang soeka bli.

Liatwi Tong jang tjinta tanah aernja kita silaken bli ini soerat oetang, akan bantoe pada pemeranta Repoeblik dengan dapat rente dari oewang jang ia kasi pinjem. Dari berita surat kabar ini tampak bahwa tingkat bunga obligasi pemerintah Cina itu menguntungkan karena suku bunga pada 30 Oktober 1912 di Bank Escomto saja hanya empat persen per tahun untuk deposito 12 bulan.

Pemerintah Belanda benar-benar memanfaatkan bursa cabangnya di Batavia secara optimal. Pada saat pendirian ada 13 anggota bursa yang semuanya adalah milik pemerintah Belanda. Ketika bursa kian ramai, tiga bank besarnya juga masuk ke bursa pada tahun 1928, yaitu NHM, Escomto dan NIHB, maka anggotanya menjadi 16.

Sebagian catatan tambahan, NHM (Nederlandsche Handel Maatchappij) adalah perusahaan keuangan dan perdagangan yang didirikan 1824. Mayoritas sahamnya dipegang oleh Raja Belanda. Ketika merdeka, bank inidinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Ekspor Impor (Bank Exim).

Kemudian Escomto yang didirikan 1857 dinasionalisasi persis seabad kemudian dengan nama baru Bank Dagang Negara (BDN). Lalu Nederland Indiache Handels Bank (NIHN) yang didirikan 1863 kemudian berubah menjadi Bank Bumi Daya (BBD).

NHN, NIHB dan Escomto adalah tiga bank yang dirikan oleh Kerajaan Belanda untuk menggantikan peran VOC yang bangkrut dengan meninggalkan utang 137,7 kita gulden 1799. Kita lalu teringat bahwa dalam perkembangan terakhir Bank Exim, BDN dan BBD pada 1999 bergabung menjadi Bank Mandiri yang menjadi bank plat merah paling besar saat ini.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top