Hidup menumpang: Jadilah anggrek, bukan benalu

Hidup menumpang di rumah saudara atau keluarga jangan seperti benalu yang merepotkan orang yang ditumpangi. Sebaliknya, jadilah seperti anggrek, hidup menumpang tetapi dapat memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan tumbuh menjadi bunga yang indah.
Feri Kristianto | 11 Desember 2010 23:46 WIB

Hidup menumpang di rumah saudara atau keluarga jangan seperti benalu yang merepotkan orang yang ditumpangi. Sebaliknya, jadilah seperti anggrek, hidup menumpang tetapi dapat memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan tumbuh menjadi bunga yang indah.

Anggrek, tanaman yang hidup menumpang di batang tumbuhan lain tetapi dapat menghidupi diri sendiri dengan melakukan proses fotosintesis seperti tanaman lainnya.Made Ngurah Bagiana, pemilik Edam Burger, satu dari 'anggrek' itu. Sukses yang dilalui pria lulusan STM bangunan ini bisa dibilang penuh perjuangan. Mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak, kini dia memiliki 10 pabrik dan 2.000 gerai Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia."Dulu saya berpikir mau apa setelah menamatkan STM bangunan, apalagi saya di Bali yang pada 1975 masih belum begitu ramai seperti sekarang. Saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan," jelasnya saat dihubungi Bisnis.Sesampai di Jakarta, dia mengunjungi kontrakan kakaknya di kawasan Utan Kayu dan tinggal di sana beberapa bulan. Seolah tahu diri dengan keadaannya, Made tidak ingin bergantung dengan kakaknya kerja apapun dia lakukan dari menjadi kondektur bis PPD, kuli bangunan hingga menjadi tukang cuci pakaian.Kini dia bisa menikmati hasil kerja kerasnya dengan usaha burger yang tersebar di penjuru Jakarta.Menurut psikolog International Brain Gym Instructor (USA) Erna Marina Kusuma mengatakan kehidupan di kota besar memang bisa dikatakan lebih menjanjikan, kendati demikian fakta yang terjadi banyak yang mengalami kesulitan terutama dalam bertahan hidup. "Sekarang yang jadi pertanyaan, mau hidup dimana jika tiba di kota besar seperti di Jakarta ini."Dijelaskannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat sanak saudara menumpang tinggal di tempat orang lain. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tamu adalah raja."Terkadang kita sering salah kaprah dengan hal ini. Mungkin tuan rumah sering bermanis-manis kata dengan mengatakan anggap saja rumah sendiri, silakan makan sepuasnya, tidur yang nyenyak, kalo ada apa-apa bilang om atau tante ya," jelasnya. Namun dalam hati siapa tau. Boleh saja mereka melakukan itu karena mereka menghormati sanak saudara atau orang tua kita sebagai contoh ketika menginap di rumah saudara, tapi tidak sepatutnya kita menerima dengan senang hati diperlakukan seperti itu terus menerus.Kedua, kadang empati dan tahu diri. Ini kuncinya. Sebaik apapun tuan rumah padamu, tetaplah tahu diri. Meskipun merasa sudah bawa oleh-oleh yang banyak, toh tetap saja kita itu numpang, kita bukan menginap di hotel dimana semua jasa kita bayar.Berpikirlah dua kali lebih jauh. Pikirkanlah bagaimana perasaan tuan rumah, apa yang membuat mereka senang. Dan tahu dirilah."Sering kita dengar kata itu ketika melihat sebuah film berbahasa Inggris dimana ada seseorang yang sangat pengertian dan tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain. Mulailah dengan peduli dengan perasaan orang, lalu bersimpatilah, artinya kita memandang orang lain dua kali lebih dalam dari sekadar peduli, pahamilah perasaannya," jelasnya.Selanjutnya adalah sisi budaya yang berbeda, termasuk kebiasaan yang dibawa perantau tersebut. Ada orang yang merasa cukup dengan bantu-bantu masak, bersih-bersih atau membelikan makanan/barang untuk tuan rumah.Namun apa yang paling penting? Mulailah dari diri sendiri, mentang-mentang tamu jangan sampai bangun kesiangan saat semua anggota keluarga sudah bangun dan beraktivitas. "Kadang, penampilan yang buruk, tidak mandi hanya akan membuat orang lain tidak nyaman. Mulai juga dari kamar dimana Anda menginap," jelasnya.Itu semua bisa diatasi dengan komunikasi yang dijalankan atau melakukan hal-hal kecil seperti membawakan sesuatu."Selama tinggal disana, tentu Anda akan mengenal kesukaan sang pemilik rumah. Atau Anda bisa membelikan hal-hal yang paling mendasar, seperti bahan makanan pokok, atau bahan kebersihan pokok. Bantulah semampu Anda, tidak perlu berlebihan," jelasnya.DitumpangiLain lagi dengan kisah Dahlia Sardjono, Managing Director IDEA MarComms. Dia menuturkan ketika masih duduk di SMP dulu, rumahnya dihuni oleh keluarga dekatnya. Ada adik ibunya, sepupu, dan pembantu. "Waktu itu orangtua saya bertugas ke Amerika Serikat. Saya tinggal di Jakarta bersama keluarga ibu yang menumpang di rumah," ujarnya.Ada kisah yang tidak enak juga, katanya. Misalnya uang jajan yang dikirim oleh orangtuanya, dipakai oleh kerabatnya itu untuk jalan sama pacarnya. "Namun kejadiannya sudah lama," ujarnya sembari tertawa mengenang.Pernah juga rumahnya ditumpangi keponakan ibunya. "Karena dia dari daerah, tentu saja ada masalah. Suatu ketika kami semua belum makan. Eh, dia duluan makan dan ngabisin lauknya, " ungkap Dahlia.Pernah juga barang-barang di rumahnya raib entah kemana. Setelah ada peristiwa seperti itu, akhirnya dia kumpulkan semua orang di rumah dan diajak bicara. "Sebaiknya bersikap terbuka, dan dibicarakan apa yang boleh dan tidak boleh, sehingga semua jadi enak," ujar ibu dua anak ini.Dia mengatakan sekarang ini agak sulit menerima tumpangan di rumahnya, karena kamarnya sudah penuh semua, baik untuk kamar tidur atau kamar menyimpan busana dan aksesorisnya.Terlepas dari itu semua, Dahli mengungkapkan rasa bangganya saat orang yang menumpang itu berhasil menyelesaikan kuliahnya, atau mendapatkan pekerjaan yang bagus. (ts) (yuli.saleh@bisnis.co.id/rahayuningsih@bisnis.co.id)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top