Bisnis.com, JAKARTA — Pemimpin-pemimpin Eropa datang ke Armenia untuk menghadiri dua KTT bersejarah dengan Pemerintah Armenia. Hingga kini, Armenia merupakan salah sekutu terdekat Rusia, terutama di wilayah Kaukasus Selatan.
Pada Senin (4/5/2026), lebih dari 30 pemimpin Eropa akan mengikuti konferensi tingkat tinggi (KTT) Komunitas Politik Eropa (EPC), yaitu forum regional Eropa yang dibentuk setelah invasi Rusia terhadap Ukraina pada 2022. KTT yang diadakan di Yerevan, ibu kota Armenia, tersebut juga dihadiri oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney, seperti dilansir dari BBC News, Senin (4/5/2026).
Kemudian, pada Selasa (5/5/2026), akan berlangsung KTT bilateral Uni Eropa-Armenia untuk pertama kalinya. KTT ini akan dihadiri oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa, yaitu dua tokoh penting pimpinan Uni Eropa (UE).
“Para pemimpin dari seluruh [Eropa], dengan Kanada sebagai tamu, akan membahas cara-cara bekerja sama untuk memperkuat keamanan dan ketahanan kolektif,” tulis Costa di media sosialnya sebelum acara berlangsung pada Minggu (3/5/2026).
Mengenai KTT UE-Armenia, Costa mengatakan bahwa pertemuan itu menjadi sebuah tonggak penting dalam memperdalam kerja sama bilateral kedua pihak. Pertemuan itu juga dikatakan menjadi komitmen UE dan Armenia untuk memberikan manfaat nyata bagi warga dan pelaku usaha mereka.
Dua pertemuan itu juga menjadi sesuatu yang bersejarah karena Armenia merupakan anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) pimpinan Rusia. Selain itu, Rusia, yang memiliki hubungan tidak baik dengan banyak negara-negara Eropa, juga memiliki pangkalan militer di Armenia.
Baca Juga
Armenia pun sangat bergantung pada Rusia untuk sumber daya energi. Negara Kaukasus tersebut membeli gas Rusia dengan harga khusus, berbeda dengan banyak negara anggota UE yang sudah mulai menjauhkan diri mereka dari pasokan energi Rusia pascainvasi Rusia ke Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa negaranya menjual gas ke Armenia seharga US$177,50 per 1.000 meter kubik. Sementara itu, harga gas di Eropa mencapai US$600. Putin pun mengingatkan bahwa perbedaan harga tersebut “signifikan”.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga hadir dalam KTT EPC tersebut.
Selain mengenai isu Rusia, France 24 dan Agence France-Presse (AFP) juga melaporkan bahwa pertemuan-pertemuan tersebut juga diadakan untuk mencari jalan di tengah kondisi geopolitik yang penuh ketegangan dan ketidakpastian akibat aksi Amerika Serikat (AS) di Iran dan kawasan sekitarnya. Untuk mencari solusi dalam isu di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan menjadi sorotan utama.
Perang di Asia Barat tersebut telah membuat kondisi ekonomi global menjadi instabil dengan meroketnya harga berbagai komoditas energi. Hal itu pun membuat hubungan antara negara-negara Eropa dan AS menjadi renggang.
Dengan kondisi tersebut, timbul keraguan yang bertambah mengenai komitmen AS untuk membela sekutu-sekutunya di Eropa dari intimidasi Rusia. Invasi Rusia di Ukraina saat ini telah berjalan selama lebih dari empat tahun.
Sementara itu, kehadiran Mark Carney dari Kanada, yang merupakan pemimpin non-Eropa pertama yang ikut dalam KTT EPC, menandakan makin eratnya hubungan antara Kanada dan negara-negara Eropa. Seperti Eropa, ekonomi Kanada juga terdampak oleh tarif dari Trump.
Kanada memang telah bergabung dengan skema pendanaan pertahanan UE sebagai upaya diversifikasi dari ketergantungannya terhadap AS. Kanada merupakan negara non-Eropa pertama yang bergabung dalam skema itu. Negara tersebut juga berusaha untuk meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan dengan UE.
Sébastien Maillard dari lembaga pemikir Institut Jacques Delors mengatakan bahwa EPC pada awalnya dipandang sebagai organisasi “anti-Putin”. Akan tetapi, pandangan itu mulai berubah.
“Dengan undangan kepada Kanada, inisiatif ini, yang awalnya didorong oleh faktor geografis, kini memiliki nuansa anti-Trump,” ujarnya seperti dikutip dari France 24, Senin (4/5/2026).
Armenia Perlahan Melepaskan Diri dari Pengaruh Rusia
Pertemuan antara kekuatan-kekuatan Eropa di Armenia ini yang pertama di Kaukasus. Hal ini berlangsung ketika Armenia mempererat hubungannya dengan Eropa, sambil juga berusaha untuk melepaskan diri secara hati-hati dari cengkeraman Rusia.
Titik balik hubungan Armenia-Rusia adalah konflik antara Armenia dengan Azerbaijan, negara tetangganya, pada 2023 dengan negara tetangganya, Azerbaijan.
Ketika Azerbaijan melakukan serangan untuk menyelesaikan pengambilalihannya atas Artsakh atau Nagorno-Karabakh, Rusia, yang memiliki pasukan penjaga perdamaian di lapangan, hanya berdiam diri
Serangan Azerbaijan tersebut mengusir lebih dari 100.000 etnis Armenia dari Republik Artsakh, suatu negara de facto yang secara hukum masuk ke wilayah Azerbaijan. Beberapa pihak mengatakan bahwa tindakan Azerbaijan tersebut merupakan pembersihan etnis.
Sebelumnya, serangan Azerbaijan ke wilayah Armenia juga tidak mendapat tanggapan dari Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO) pimpinan Rusia. Armenia pun sempat menyatakan kepada BBC bahwa skema keamanan yang mereka ikuti tidak berfungsi.
Di lain pihak, UE juga pernah menengahi kesepakatan pengakuan perbatasan Armenia dan Azerbaijan. Mereka pun mengerahkan misi pemantauan sipil di sepanjang perbatasan tersebut. Hal itu pun menggeser persepsi masyarakat Armenia terhadap UE.
“Kami menyadari ada tuntutan publik untuk hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa,” jelas Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Majelis Nasional Armenia, Sargis Khandanyan.
Pada Maret 2025, parlemen Armenia kemudian mengesahkan undang-undang untuk memulai proses bergabung dengan UE. Proses perdamaian Armenia-Azerbaijan juga telah dipercepat.
Pemimpin kedua negara menandatangani perjanjian bersejarah di AS pada Agustus 2025 yang bertujuan untuk mengakhiri konflik puluhan tahun di antara mereka.
Mereka juga mengumumkan sebuah koridor konektivitas utama, yang menggunakan nama Trump, yang akan membentang di sepanjang perbatasan Armenia-Iran. Koridor tersebut akan menghubungkan kawasan tersebut ke pasar-pasar Eropa.
Meski begitu, proses perdamaian antara kedua negara tetangga tersebut tetap rapuh dan pendekatan Eropa ke Armenia membutuhkan upaya diplomatik yang besar.
Pekan lalu, Parlemen Azerbaijan menangguhkan hubungannya dengan Parlemen Eropa, salah satu badan legislatif UE, karena UE menyerukan hak bagi warga Armenia di Artsakh yang menjadi pengungsi pada 2023 dan hak pembebasan tahanan Armenia yang ditahan oleh Azerbaijan.
Mengenai hubungannya dengan Rusia, Armenia secara resmi menerapkan strategi diversifikasi, yaitu bahwa negara ini menjalin hubungan baik dengan Rusia maupun negara-negara Eropa dan Amerika Utara.
Di pihak lain, Rusia memandang hubungan Armenia yang makin hangat dengan Uni Eropa dengan kejengkelan yang tak ditutup-tutupi. Putin mengingatkan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan bahwa ambisi keanggotaan UE Anemia tidak sejalan dengan keanggotaan EAEU mereka.
“Tidak mungkin untuk secara bersamaan berada dalam serikat kepabeanan dengan Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia,” ujar Putin.
Dengan peringatan itu, hanya beberapa hari sebelum KTT EPC, Rusia melarang impor air mineral Armenia.
Pada April 2026, UE menyetujui misi sipil baru untuk Armenia selama dua tahun. Misi itu dirancang untuk menangkal disinformasi, serangan siber, aliran keuangan gelap, dan intervensi asing lain dari Rusia. Misi itu utamanya dibentuk menjelang pemilihan parlemen Armenia pada Juni 2026 mendatang, yang diduga akan mendapat campur tangan Rusia.
CyberHUB-AM, suatu kelompok keamanan siber di Armenia, menyatakan bahwa telah terdapat serangan digital di WhatsApp, Signal, dan Telegram. Serangan-serangan tersebut ada yang berhasil dilacak berasal dari Rusia.
Sekretaris Jenderal Majelis Eropa Alain Berset mengatakan bahwa institusi demokrasi Armenia sedang berada di bawah tekanan. Dia mengatakan bahwa Armenia, seperti banyak negara, belum benar-benar bisa menandingi skala dan kecanggihan ancaman yang ada.
Saat ini, belum ada garis waktu pasti untuk keanggotaan Armenia di UE. Para pemimpin Eropa juga belum memberikan komitmen pertahanan mereka dan rencana apa pun untuk menggantikan pembelian gas Rusia kepada Armenia. Yang ada hanyalah janji-janji misi sipil dan liberalisasi visa dalam dua tahun ke depan. (Laurensius Katon Kandela)