Kamboja dan Thailand Masih Saling Serang usai Klaim Gencatan Senjata Trump

Thailand dan Kamboja terus bertempur meski klaim gencatan senjata Trump. Thailand menolak klaim tersebut dan melanjutkan serangan untuk mengatasi ancaman.
Asap mengepul dari sebuah bangunan, di tengah bentrokan antara Thailand dan Kamboja, di distrik Kantharalak, provinsi Sisaket, Thailand, 24 Juli 2025./Reuters/TBPS
Asap mengepul dari sebuah bangunan, di tengah bentrokan antara Thailand dan Kamboja, di distrik Kantharalak, provinsi Sisaket, Thailand, 24 Juli 2025./Reuters/TBPS
Executive Brief
  • Thailand melanjutkan tindakan militer terhadap Kamboja meskipun ada klaim gencatan senjata dari Presiden AS Donald Trump.
  • Kedua negara saling menuduh melakukan serangan, dengan Thailand menuduh Kamboja menyerang wilayah sipil dan Kamboja menuduh Thailand melakukan serangan udara.
  • Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan pertemuan khusus ASEAN untuk menilai situasi dan mendukung langkah-langkah deeskalasi di perbatasan Kamboja-Thailand.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA - Thailand menyatakan akan melanjutkan tindakan militer terhadap Kamboja untuk menghilangkan bahaya dan ancaman, bahkan setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menengahi gencatan senjata baru.

Pertempuran memasuki hari ketujuh di perbatasan kedua negara yang disengketakan. Dilansir Bloomberg, Sabtu (13/12/2025), Thailand mengatakan Kamboja telah menyerang dan menembakkan roket ke wilayah sipil sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi, sehingga mendorong Negeri Gajah Putih itu untuk merespons dengan serangan terhadap sasaran militer.

Sementara, Kamboja mengatakan Thailand melancarkan serangan udara baru pada Sabtu pagi, dengan jet tempur menjatuhkan tujuh bom di provinsi barat Pursat setelah Trump melakukan panggilan telepon dengan para pemimpin kedua belah pihak.

Bentrokan yang terus berlanjut ini bertentangan dengan klaim presiden AS pada hari Jumat bahwa Kamboja dan Thailand telah sepakat untuk segera menghentikan semua penembakan dan kembali berkomitmen pada ketentuan Perjanjian Damai Kuala Lumpur yang telah ditandatangani oleh mereka pada Oktober bulan ini.

“Thailand akan terus melakukan tindakan militer sampai kami tidak lagi merasakan bahaya dan ancaman terhadap tanah dan rakyat kami,” kata Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dalam postingan Facebook pada Sabtu pagi. "Saya ingin memperjelas. Tindakan kita pagi ini sudah berbicara."

Anutin mengatakan pada hari Sabtu di sela-sela sebuah acara di Bangkok bahwa dia dan Trump belum membahas gencatan senjata atau mencapai kesepakatan semacam itu.

"Kamboja masih melakukan penembakan besar-besaran terhadap sasaran non-militer, dengan roket menghantam wilayah sipil dan melukai parah warga sipil Thailand. Jadi, apakah Thailand perlu mendengarkan siapa pun sekarang? Jika kita melakukan itu, apakah kita punya waktu untuk melindungi kedaulatan atau rakyat kita?” kata Anutin kepada wartawan.

Pada penjelasan terpisah, Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow mengatakan kepada wartawan bahwa Thailand kecewa dengan postingan Trump di Truth Social, yang dinilai tidak mencerminkan pemahaman akurat mengenai situasi tersebut.

Pemimpin Kamboja pada hari Sabtu tidak menyebutkan pernyataan presiden AS bahwa ada perjanjian gencatan senjata baru. Perdana Menteri Hun Manet mengatakan dia telah mendesak AS dan Malaysia, yang bertindak sebagai mediator, untuk menggunakan citra satelit untuk memverifikasi pihak mana yang melepaskan tembakan lebih dulu dalam bentrokan baru tersebut, dan menyatakan Kamboja siap untuk bekerja sama.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) tahun ini, mengatakan negaranya akan mengadakan pertemuan khusus para menteri luar negeri regional pada 16 Desember untuk menilai situasi perbatasan Kamboja-Thailand dan mendukung langkah-langkah deeskalasi.

Anwar mengatakan dia telah mengerahkan Tim Pengamat Asean, yang dipimpin oleh kepala pasukan pertahanan Malaysia, untuk memantau perkembangan di lapangan dengan bantuan pemantauan satelit AS dan untuk mempresentasikan temuan kelompok tersebut pada pertemuan para menteri luar negeri.

Adapun, Thailand dan Kamboja berbagi perbatasan sepanjang 800 kilometer. Konflik tersebut telah menyebabkan lebih dari dua lusin orang tewas, termasuk 15 tentara Thailand dan 11 warga sipil Kamboja, sejak konflik dimulai kembali pada hari Minggu, menurut pemerintah masing-masing negara. Lebih dari setengah juta orang telah mengungsi.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro