Bisnis.com, SYDNEY — Dana pensiun Australia atau Australia Superannuation Pension Fund yang diestimasi senilai total 4,4 triliun dolar Australia yang setara dengan Rp48.065 triliun (kurs BI Rp10.924 per dolar Australia) berpotensi ikut mengalir ke Indonesia dalam bentuk investasi ke berbagai proyek potensial, dari infrastruktur hingga renewable energy.
Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite MP menyampaikan Australia memiliki dana investasi dapen dengan nilai sekitar 4,4 triliun dolar Australia. Jumlah tersebut umumnya diinvestasikan ke dalam investasi di Amerika Utara dan Eropa.
Pemerintah Australia saat ini, lanjut Thistlethwaite, memiliki kebijakan yang bertajuk Invested yang menjadi panduan strategi ekonomi Australia di Asia Tenggara hingga 2040. Secara garis besar, kebijakan itu bertujuan untuk meningkatkan investasi Australia ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, nilai investasi Australia di Indonesia mencapai US$2,8 miliar dalam 5 tahun terakhir. Jumlah itu paling besar mengalir ke sektor pertambangan, perhotelan, dan layanan kesehatan.
Untuk mendorong strategi Invested, Australia sudah membentuk Indonesia Deal Team untuk mengidentifikasi, memfasilitasi, menjaring peluang di Indonesia dengan para investor Australia. Investor yang dimaksud termasuk industri dana pensiun Australia.
Thistlethwaite menyampaikan pengelola dana pensiun Australia terus mencari peluang-peluang baru untuk meningkatkan dana tersebut, termasuk di Indonesia.
Terkait dengan sektor-sektor potensial, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Imigrasi Australia itu menyampaikan sektor renewable energy, teknologi, pengembangan mineral kritis, hingga infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jalan, hingga jalur kereta.
“Inilah beberapa proyek yang telah difasilitasi dan diinvestasikan oleh dana pensiun serta bank investasi Australia di Asia Tenggara. Dan kami kembali mencari peluang-peluang seperti itu untuk dapat didukung,” paparnya dalam pertemuan dengan sejumlah media asal Indonesia di Sydney, Australia, Senin (17/11/2025).

Thistlethwaite menilai Indonesia memiliki stabilitas dalam sistem politik dan lingkungan bisnis. Modal tersebut memberikan kepastian dan pemahaman tentang bagaimana lingkungan bisnis di Indonesia bekerja itu sangat krusial.
“Jadi semakin banyak pemimpin bisnis dan pemimpin politik yang dapat Anda bawa ke Australia untuk bertemu dengan bank investasi dan dana pensiun kami, menurut saya itu akan semakin baik,” imbuhnya.
Selain itu, dia juga menggarisbawahi tentang aspek tata kelola negara yang bebas korupsi sebagai faktor krusial yang mempengaruhi keputusan para investor untuk menanamkan modalnya. Thistlethwaite menegaskan bahwa proses yang terbuka dan transparan dapat menumbuhkan kepercayaan banyak pihak dan memperlancar hubungan bisnis dan investasi.
Dia juga sepakat bahwa dalam industri atau bisnis padat karya, biaya tenaga kerja merupakan faktor yang menarik. Sebagai negara yang sedang berkembang, lanjutnya, Indonesia dinilai menawarkan daya saing biaya ketika berbicara tentang tenaga kerja.
“Saya sering berbicara dengan banyak pelaku usaha Australia. Mereka mengatakan bahwa mereka melihat banyak peluang baru yang menjanjikan dan bahwa kepercayaan mereka untuk berinvestasi di Indonesia semakin meningkat,” tuturnya.