Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenali Ciri-ciri Stunting pada Anak dan Penyebabnya

Kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi tersebut bukan hanya mempengaruhi tinggi badan pada anak, namun juga kemampuan berpikirnya.
Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari - Bisnis.com 10 April 2022  |  13:57 WIB
Kenali Ciri-ciri Stunting pada Anak dan Penyebabnya
Ilustrasi gizi buruk - Reuters

Binis.com, JAKARTA- Stunting masih menjadi permasalahan besar di Indonesia. Kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi tersebut bukan hanya mempengaruhi tinggi badan pada anak, namun juga kemampuan berpikirnya.  

Untuk itu, mengenali ciri-ciri dan penyebab stunting cukup penting untuk masyarakat. Menurut Ahli Gizi FKM UI, Sandra Fikawati, kondisi tersebut bisa dilihat ketika anak berusia dua tahun. 

Tepatnya, tinggi badan anak atau panjangnya kurang dari standar anak pada usianya atau kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan dan kurang dari –3.00 SD (severely stunted). 

"Biasanya berkurang dulu dari berat badannya, kemudian terdampak juga tinggi badannya. Kalau pakai standar deviasi itu di bawah standar deviasi. Jadi sebenernya kalau anak itu normal di atas itu," kata perempuan yang akrab disapa Fika kepada bisnis.com, Minggu (10/4/2022). 

Tidak hanya sampai disitu, Fika menyampaikan anak dengan kondisi stunting juga mudah sakit. Pasalnya kekebalan tubuhnya lebih rendah dibandingkan yang lain karena kekurangan gizi. 

Kondisi tersebut jika terus-menerus didiamkan,  menurutnya akan berakibat fatal ke depannya. Hal tersebut lantaran anak dengan kondisi yang stunting akan kurang kompetitif dibandingkan dengan yang lain.

"Kalau misalnya mungkin masa remaja tingginya kurang optimal jadi mencari pekerjaan kurang kompetitif. Dari segi kecerdasan juga pasti terganggu itu, kalau anak yang dulunya stunting pertumbuhan otaknya juga tidak optimal ya akibatnya kompetisi dalam hal berpikir juga rendah," paparnya. 

Belum lagi, lanjut dia, anak dengan kondisi stunting juga berisiko memiliki penyakit degerenatif, di mana terjadi dengan memburuknya jaringan atau organ dari waktu ke waktu. Pasalnya anak stunting  pertumbuhannya tidak optimal dan mengganggu sistem tubuh.

"Bisa saja muncul penyakit tidak menular seperti jantung, itu juga beresiko juga anak-anak yang stunting juga," katanya. 

Fika juga menyampaikan kondisi stunting tersebut tidak mendadak menyerang anak. Banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, salah satunya faktor sebelum lahir, di mana, ibunya kurang gizi dan memiliki anemia. 

"Pertama dimulai dari ibu saat hamil itu kurang gizi dan ada anemia. Di Indonesia penyebabnya itu sangat tinggi. Itu sudah mengganggu pertumbuhannya selanjutnya," katanya. 

Kemudian setelah melahirkan pun menurutnya sangat penting untuk diperhatikan. Terlebih kala menyusui, Fika menyampaikan, ibu juga harus memiliki kondisi yang baik untuk memberikan asi ekslusif pada anak. 

Namun menurutnya, masih banyak kasus di Indonesia, ibu menyusui tidak berkecukupan nutrisinya. Sehingga menyebabkan anak stunting lantaran tidak diberikan gizi yang seharusnya. 

"Ibunya saja saat hamil hampir 50 persen anemia, nah kemudian kalau dia menyusui harus memberikan asi eksklusif sementara kebutuhan nutrisi ibu menyusui itu lebih tinggi, daripada ibu hamil itu selalu dipaksakan ibu harus menyusui dan dianggap asinya itu bagus dan membuat anak itu stunting. Padahal disitu yang kurang," katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stunting
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top