Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Deklarator dari Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) La Ode Basir (kedua kiri), Dani Kusuma (kiri), M Iqbal Siregar (kedua kanan) dan M Ambardi menggelar konferensi pers tentang Deklarasi Anies Baswedan for Presiden 2024 di Jakarta, Rabu (20/10/2021). Kelompok relawan ANIES mendeklarasikan dukungan terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk maju pada pemilihan presiden tahun 2024. ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A
Lihat Foto
Premium

Berlomba Mendirikan Relawan Calon Presiden Pemilu 2024

Pemilu 2024 masih tiga tahun lagi, namun akhir-akhir ini muncul relawan calon presiden. Ada anggapan kehadiran para relawan dan deklarasi dukungan capres saat ini terlalu dini. Masih sulit meraba-raba siapa saja calon presiden nantinya, mengingat mereka harus diusung oleh partai politik (parpol), dan atau gabungan partai politik. Belum lagi karena ada ambang batas presiden 20 persen yang mengacu pada penguasaan kursi di DPR bagi parpol pengusung capres.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com
17 November 2021 | 09:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Munculnya fenomena relawan calon presiden (capres) akhir-akhir ini telah memicu pro dan kontra di tengah jagat perpolitikan Indonesia. Padahal, perhelatan demokrasi berupa pemilihan presiden (Pilpres) 2024 masih tiga tahun lagi. Pertanyaan: “Apakah hadirnya para relawan dan deklarasi dukungan pada capres saat ini terlalu dini mengingat konstelasi koalisi parpol untuk Pemilu 2024 belum jelas?”

Artinya, masih sulit meraba-raba siapa saja calon presiden nantinya, mengingat mereka harus diusung oleh partai politik (parpol), dan atau gabungan partai politik. Belum lagi karena ada ambang batas presiden (presidential threshold) sebesar 20 persen yang mengacu pada penguasaan kursi di DPR bagi parpol pengusung capres yang harus dipenuhi sesuai Undang-undang Pemilu.

Bisa dikatakan kalau tidak dimungkinkan bagi seseorang, sepopuler apapun dia, maju menjadi calon presiden tanpa kendaraan parpol. Sekalipun, Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, maupun Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memiliki elektabilitas yang tinggi, ketiganya tetap tidak bisa maju jadi capres kalau parpol maupun gabungan parpol tidak memberi tiket untuk maju capres. Tentu masih banyak sosok lainnya yang potensial untuk menjadi capres selain mereka yang berlatar kepala daerah tersebut.

Melihat perkembangan teranyar, wajar kalau sebagian kalangan risau. Kerisauan mereka bukan saja karena masih belum redanya pandemi Covid-19 yang menyita perhatian publik, tapi juga karena konsentrasi para capres yang mereka usung akan terganggu. Pasalnya, akan sulit bagi kepala daerah untuk membedakan kepentingan tugas pokok dan kepentingan pencitraan dirinya yang dituntut oleh para relawan ketika masih mengemban jabatan sebagai kepala daerah.

Apalagi, berkaca pada Pemilu 2019, ketika banyak relawan terlibat “kampanye hitam” dan penyebaran kabar bohong (hoaks) atas lawan politiknya.

Residunya pun masih terasa sampai hari ini akibat kerasnya polarisasi di antara para relawan capres Prabowo Subianto dan pendukung Joko Widodo terkait isu-isu sensitif ketika itu.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top