Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Republik Persatuan Myanmar adalah sebuah negara berdaulat di Asia Tenggara. Myanmar berbatasan dengan India dan Bangladesh di sebelah barat, Thailand dan Laos di sebelah timur dan China di sebelah utara dan timur laut. Negara seluas 676.578 km ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. - Wikipedia
Lihat Foto
Premium

Krisis Myanmar, Intervensi Asing atau Perang Saudara?

Milisi anti-pemerintah berkembang pesat. Karena itu, tidak tertutup kemungkinan jika perkembangan milisi itu berlanjut, maka dunia termasuk Amerika Serikat yang juga berkepentingan, akan menyaksikan Myanmar menuju perang saudara. Masalah mendasar adalah bahwa rakyat mulai percaya kali ini bahwa kediktatoran militer tidak akan bertahan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com
16 Juli 2021 | 10:45 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Diplomasi yang dilakukan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken pekan lalu terkait perkembangan politik dan keamanan Myanmar cukup menarik untuk disimak dalam konteks perkembangan politik regional Asia Tenggara.

Blinken mengatakan kepada para mitranya di Asia Tenggara, kalau Pemerintah AS sangat prihatin dengan kudeta militer di Myanmar, meski di balik agenda itu, Blinken juga memainkan diplomasi terkait sengketa di Laut China Selatan.

Sebagaimana diakui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price dalam sebuah video konferensi dengan menteri-menteri luar negeri Asean, Blinken mengajak negara-negara Asia Tenggara untuk mengambil tindakan atas Myanmar. 

Tujuannya adalah untuk mengakhiri kekerasan dan mengembalikan demokrasi di Myanmar, negara anggota Asean yang akhir-akhir ini banyak mendapat dukungan dari China karena hubungan perdagangan.

Dari perspektif politik, tentu Blinken punya alasan. Pasalnya, negara-negara yang tergabung dalam Asean itu merupakan garda terdepan dalam upaya diplomasi sejak Myanmar mengalami gejolak politik usai kudeta oleh militer 1 Februari 2021.

Selain itu, AS sangat berkepentingan dengan investasinya di kawasan tersebut, di samping kepentingan geopolitik internasional terkait perdagangan di lintasan kawasan Laut China Selatan.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top