<p><strong>Bisnis.com</strong>, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan berencana melakukan <a href="https://www.bisnis.com/topic/53942/Vaksin-Covid-19" target="_blank" rel="noopener">vaksinasi Covid-19</a> ketiga atau booster untuk tenaga kesehatan.</p><p>Adapun, vaksin yang digunakan adalah Moderna. Vaksin ini berbeda dari vaksin yang diterima tenaga kesehatan sebelumnya, Sinovac.</p><p>Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan atau Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi menegaskan, bahwa penggabungan atau campuran vaksin berbeda diperbolehkan.</p><p>“Untuk prosedurnya sama dan skrining sama. Vaksin boleh dicampur, karena ini sudah dikaji keamanannya oleh ITAGI dan organisai profesi,” jelasnya kepada <em>Bisnis</em>, Selasa (13/7/2021).</p><p>Adapun, orang yang sudah menerima jenis vaksin apapun bisa menerima vaksin ketiga dengan jenis lainnya, juga apa pun mereknya.</p><p>Sebelumnya, Kemenkes pada 31 Mei 2021 melarang masyarakat untuk menerima jenis vaksin yang berbeda. Hal ini setelah ada kabar bahwa ada pengendara ojek online yang menerima vaksin mendapatkan dosis pertama <a href="https://www.bisnis.com/topic/53877/Sinovac" target="_blank" rel="noopener">Sinovac</a>, dan dosis kedua AstraZeneca.</p><p>Kendati demikian, kabar tersebut ditepis Kemenkes dan menegaskan, bahwa penerima vaksin harus menerima dua dosis dengan merek yang sama. Kala itu, belum ada penelitian terkait penggabungan vaksin berbeda.</p><p>“Usahakan tetap harus sama, sehingga nanti KIPI-nya [Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi] tidak menjadi masalah di belakang hari. Kalau mau divaksinasi pastikan merk vaksin kedua sama,” ujar Siti Nadia Tarmidzi pada konferensi virtual, Senin (31/5/2021).</p><p>Kemudian, jika tidak sempat mendapatkan vaksin yang sama atau tidak sempat hadir ketika vaksinasi dosis kedua, dia mengimbau agar masyarakat mengganti jadwalnya sesegera mungkin.</p><p>“Kalau kelewat, segera lakukan vaksinasi kedua di pusat vaksinasi yang ada. Karena kalau kedua itu akan meningkatkan kekebalan tubuh sehingga jadi kunci agar betul-betul bisa mencapai kekebalan yang diharapkan. Jadi nggak usah tunda,” imbuh Nadia.</p><p><strong>Pendapat WHO</strong></p><p>Adapun, Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (<a href="https://www.bisnis.com/topic/8557/who" target="_blank" rel="noopener">WHO</a>) Soumya Swaminathan menyarankan, agar tidak mencampur dan mencocokkan vaksin<a href="https://www.bisnis.com/topic/53310/Covid-19" target="_blank" rel="noopener"> Covid-19</a> dari berbagai produsen berbeda.</p><p>Dia menyebutnya sebagai "tren berbahaya" karena hanya ada sedikit data yang tersedia tentang dampak kesehatannya.</p><p>"Ini tren yang berbahaya, karena sejauh ini belum ada bukti dalam mencampur dan mencocokkan. Ini juga akan menjadi situasi kacau di negara-negara, jika warga mulai memutuskan kapan dan siapa yang akan mengambil dosis kedua, ketiga dan keempat," paparnya dilansir dari<em> Strait Times.</em></p><p><img src="https://images.bisnis.com//upload/img/campur3sah.jpg" width="1050" height="500" alt="" /></p><h5 style="text-align: center;"><em>Siswa SMP mengikuti vaksinasi Covid-19 di halaman parkir Gembira Loka Zoo, Umbulharjo, Yogyakarta, Selasa (13/7/2021). Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar vaksinasi Covid-19 untuk anak berumur 12-18 tahun dengan melakukan pendaftaran melalui aplikasi Jogja Smart Service. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah</em></h5><p></p><p>Dilansir dari <em>Global News</em>, Kanada adalah salah satu negara yang telah mencampur dan mencocokkan vaksin yang disetujui Health Canada sejak Juni.</p><p>Pada saat itu, Komite Penasihat Nasional untuk Imunisasi (NACI) mengatakan orang yang menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca harus mendapatkan vaksin mRNA Pfizer-BioNTech atau Moderna untuk dosis kedua mereka, kecuali dikontraindikasikan.</p><p>Vaksin dapat dicampur dan dicocokkan dengan aman, kata mereka. Pakar Kanada sebagian besar berpihak pada badan nasional, mengakui praktik itu aman.</p><p><strong>Sejumlah Negara</strong></p><p>Ternyata, penggunaan vaksin kombinasi bukan hal baru. Sejumlah negara sudah melakukannya, dan bahkan diklaim kombinasi vaksin tertentu dapat menghasilkan imunitas lebih tinggi para penerima terhadap Covid-19.</p><p>Berdasarkan catatan <em>Bisnis</em> melansir <em>The Indian Express</em>, ada 16 negara yang sudah menggunakan vaksin kombinasi. <em>Pertama</em>, Bahrain pada 4 Juni memperbolehkan penerima vaksin memilih disuntik vaksin Pfizer atau Sinopharm.</p><p><em>Kedua</em>, Kanada menggunakan AstraZeneca dikombinasikan dengan Moderna atau Pfizer.</p><p><em>Ketiga</em>, China yang mempertimbangkan kombinasi vaksin yang dikembangkan CanSino dan Chingqing.</p><p><em>Keempat</em>, Finlandia yang pada 14 April mengumumkan bahwa penerima vaksin AstraZeneca bisa mendapat vaksin berbeda untuk suntikan kedua.</p><p><em>Kelima</em>, ada Prancis yang memperbolehkan orang di bawah 55 tahun yang disuntik AstraZeneca bisa menerima vaksin apa saja berbahan mRNA.</p><p><em>Keenam</em>, Norwegia senada pada 23 April memperbolehkan penerima vaksin AstraZeneca mendapat vaksin mRNA untuk dosis kedua.</p><p><em>Ketujuh</em>, ada Rusia yang memperbolehkan kombinasi vaksin AstraZeneca dan Sputnik V.</p><p><em>Kedelapan</em>, Korea Selatan membuka jalan untuk vaksin kombinasi AstraZeneca dengan Pfizer.</p><p><em>Kesembilan</em>, Spanyol juga memperbolehkan penerima vaksin pertama AstraZeneca untuk menerima Pfizer pada dosis kedua.</p><p><em>Kesepuluh</em>, ada Swedia yang memperbolehkan dosis pertama mendapat AstraZeneca, kedua mendapatkan merek lainnya.</p><p><em>Kesebelas</em>, ada Uni Emirat Arab yang memperbolehkan vaksin booster menggunakan Sinopharm, yang berbeda dengan vaksin sebelumnya menggunakan Pfizer.</p><p><em>Kedua belas</em>, ada Inggris yang memberi izin penggunaan vaksin Pfizer diikuti AstraZeneca.</p><p><em>Ketiga belas</em>, Amerika Serikat memberi izin penggunaan campuran vaksin Pfizer dengan Moderna dengan jarak 28 hari.</p><p><em>Keempat belas</em>, ada Indonesia yang berencana memakai suntikan booster untuk tenaga kesehatan meggunakan Moderna.</p><p><em>Kelima belas</em>, Italia yang mengizinkan penerima AstraZeneca untuk mendapat suntikan berbeda pada dosis kedua.</p><p><em>Keenam belas</em>, ada Thailand yang memperbolehkan suntikan vaksin Pfizer dikombinasikan dengan Sinovac untuk dosis kedua.</p><p><img src="https://images.bisnis.com//upload/img/campur2sah.jpg" width="1050" height="500" alt="" /></p><h5 style="text-align: center;"><em>Pekerja memeriksa kondisi kontainer berisi vaksin Covid-19 Sinopharm setibanya di Terminal Cargo, Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (13/7/2021). Sebanyak 1,4 juta dosis vaksin Sinopharm tiba di Indonesia menggunakan pesawat Garuda Indonesia dan akan digunakan untuk kebutuhan vaksinasi Gotong Royong. ANTARA FOTO/Fauzan</em></h5><p><strong></strong></p><p><strong>Kekebalan Lebih Kuat</strong></p><p>Berdasarkan hasil studi Universitas Oxford, mencampur dosis vaksin Covid-19 dari Pfizer Inc dengan AstraZeneca Plc. ternyata dapat menciptakan respons kekebalan yang kuat.</p><p>Para peneliti melaporkan melalui jurnal medis Lancet, bahwa campuran suntikan Pfizer diikuti oleh vaksin AstraZeneca, dan sebaliknya, menghasilkan konsentrasi antibodi yang lebih tinggi terhadap Covid-19 ketika diberikan dalam selang waktu empat minggu.</p><p>Hal ini bisa menjadi solusi bagi negara-negara yang memiliki kesulita untuk mendapatkan vaksin dalam waktu berdekatan atau kekurangan pasokan vaksin, dengan jeda waktu antara dosis pertama dan kedua yang lebih lama.</p><p>Riset itu juga menunjukkan urutan pemberian vaksin antara dua jenis dosis itu mempengaruhi hasil.</p><p>AstraZeneca yang diikuti oleh Pfizer akan menghasilkan tingkat antibodi kekebalan dan sel T yang lebih tinggi daripada Pfizer yang diikuti AstraZeneca.</p><p>Selain itu, vaksin campuran menghasilkan lebih banyak antibodi daripada dua dosis AstraZeneca. Respons sel T terbaik berasal dari AstraZeneca diikuti oleh Pfizer, dan respons antibodi tertinggi terlihat dari dua dosis Pfizer.</p><p>Uji coba itu melibatkan 830 sukarelawan berusia 50 tahun ke atas dan menguji vaksin hanya terhadap varian yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan.</p><p>Penelitian lebih lanjut dari program ini akan melihat kombinasi vaksin dari Moderna Inc. dengan Novavax Inc.</p><p>Pada penelitian awal dari studi tersebut ditemukan bahwa pencampuran dosis Pfizer dan AstraZeneca bisa meningkatkan efek samping, seperti kelelahan dan sakit kepala. Namun, temuan dari studi Lancet tersebut mengatakan, bahwa efek samping ini tidak terjadi dalam jangka panjang.</p>
Baca Juga