Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengenang Lee Kun-hee, Sosok yang Menyulap Samsung jadi Raksasa Elektronik Dunia

Lee mulai melakukan perubahan besar di perusahaan setelah melihat produk Samsung yang berdebu di salah satu toko elektronik di Los Angeles.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 25 Oktober 2020  |  13:39 WIB
Lee Kun-hee - Bloomberg
Lee Kun-hee - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kabar duka datang dari Negeri Ginseng Korea Selatan. Tokoh yang membesarkan Samsung Electronics Co. Lee Kun-hee meninggal dunia pada Minggu (25/10/2020) di usia 78 tahun.

Dilansir Bloomberg, Samsung merilis pernyataan Lee meninggal dengan didampingi keluarganya, tanpa menyebutkan penyebab kematian. Lee diketahui pernah menjalani operasi pada 2014 setelah mengalami serangan jantung dan mendapatkan perawatan untuk kanker paru-paru pada akhir 1990-an.

Bos Besar Samsung ini lahir pada 9 Januari 1942 di Daegu, sekitar 240 kilometer selatan Seoul dan dibesarkan di dekat Uiryeong.

Pada 1938, ayahnya yang bernama Lee Byung-chull, membuka sebuah toko di Daegu, yang kemudian berkembang menjadi Samsung Grup.

Saat muda, Lee Kun-hee menyukai film dan juga mobil. Dia mengambil pelajaran gulat dan rugby di sekolah untuk mengatasi rasa sepinya.

Lee lulus sebagai sarjana ekonomi dari Universitas Waseda, Tokyo. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan administrasi bisnis di Universitas George Washington di Amerika Serikat.

Gerai Samsung di Seoul, Korea Selatan/SeongJoon Cho-Bloomberg

Pada 1971, Lee Byung-chull memilihnya untuk menjadi penerus dan pada 1974 perusahaan beralih menjadi produsen semikonduktor saat mengakuisisi 50 persen saham dari perusahaan Hankook Semiconductor.

Pascaakuisisi, bisnis perusahaan pun moncer pada 1988, terdorong oleh penjualan random-access memory chips.

Pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang yang paling berpengaruh oleh majalah Time pada 2005, Lee mulai melakukan perubahan besar di perusahaan setelah melihat produk Samsung yang berdebu di salah satu toko elektronik di Los Angeles.

Hal tersebut diceritakan dalam buku biografi The Lee Kun Hee Story yang diterbitkan pada 2010 dan ditulis oleh Lee Kyung-sik.

The Suwon, salah satu perusahaan Korea Selatan yang terkenal sebagai produsen alat elektronik berkualitas rendah dan murah, serta dalam kondisi berat, mengirim 6.000 karyawannya untuk memperbaiki produk yang dibuat oleh 30.000 pegawai, ujar Lee pada 1993 dalam buku biografinya.

Setelah Deklarasi Frankfurt, Lee meminta para karyawannya tiba di kantor pukul 7 pagi alih-alih jam 8.30, sebagaimana jam kerja biasanya. Pada 1995, dia mengumpulkan 2.000 pekerja untuk melihatnya membuat api ungun dari 150.000 telepon genggam, mesin fax, dan produk lainnya yang tidak memenuhi standard.

Budaya yang dibangun Lee pada akhirnya membuahkan hasil. Samsung Electronics melampaui Sony, menjadi top seller penjual TV layar datar pada 2006 dengan nilai pasar lebih dari US$100 miliar.

Pada 2010, Samsung memperkenalkan lini smartphone Galaxy dengan sofware Android, milik Alphabet Inc., yang berhasil menyalip Apple sebagai produsen terbesar pada 2011 dari sisi penjualan.

Melalui produk Galaxy Note pada 2011, Samsung memperkenalkan produk baru yang dikenal sebagai phablet, telepon genggam 'silangan' tablet.

Lee Kun-hee lah yang membangun Samsung menjadi raksasa elektronik seperti sekarang ini dan disebut sebagai salah satu pendorong kebangkitan ekonomi Korea Selatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

samsung korea selatan Industri Elektronik

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top