Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi China Tumbuh 4,9 Persen, Ini Katalisnya

PDB China tumbuh 4,9 persen, mewakili perubahan tajam dari penurunan bersejarah pada awal tahun. Data PDB terbaru itu juga menunjukkan ekonomi China bergerak mendekati pertumbuhan 6 persen yang tercatat pada kuartal ketiga 2019, sebelum pandemi melanda.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  14:03 WIB
Makau, wilayah khusus milik China.  -  Bloomberg
Makau, wilayah khusus milik China. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal ketiga 2020 meleset dari perkiraan ekonom meski tetap tumbuh dibandingkan kuartal sebelumnya.

Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh 4,9 persen mewakili perubahan tajam dari penurunan bersejarah pada awal tahun. Data PDB terbaru itu juga menunjukkan ekonomi China bergerak mendekati pertumbuhan 6 persen yang tercatat pada kuartal ketiga 2019, sebelum pandemi melanda.

Pemulihan ekonomi juga merupakan indikasi meluasnya konsumsi pada saat pertumbuhan global masih berada di bawah tekanan yang parah. Produksi industri di China melonjak 6,9 persen pada September, level tertinggi tahun ini dan tingkat yang sama seperti pada Desember sebelum wabah virus corona.

Penjualan ritel juga mencatat kinerja terbaik sepanjang tahun ini dengan kenaikan 3,3. Pada Agustus, penjualan ritel naik 0,5 persen setelah tujuh bulan berturut-turut menurun.

Chaoping Zhu, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management, mengatakan aktivitas ekonomi domestik diperkirakan melanjutkan pemulihan ke situasi normal di kuartal mendatang.

"Ketika kepercayaan konsumen membaik, konsumsi dapat mengambil alih investasi untuk menjadi penyumbang utama permintaan domestik," kata Zhu dilansir Financial Times, Senin (19/10/2020).

Selain itu, pemulihan ekonomi China juga didorong pengendalian pandemi dengan kasus baru yang tercatat tetap rendah selama beberapa bulan terakhir.

Eswar Prasad, pakar keuangan China di Cornell University mengatakan China kemungkinan menjadi satu-satunya ekonomi besar di dunia yang mencatat pertumbuhan positif tahun ini.

"Pertumbuhan jangka pendek tampaknya cukup aman. Tantangannya sekarang adalah membangun kembali kepercayaan bisnis dan konsumen untuk menghidupkan kembali investasi swasta dan mempertahankan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang kuat," katanya.

Pertumbuhan industri China dan peningkatan konstruksi telah membangkitkan minat yang besar terhadap komoditas di China. Impor barang naik ke tingkat tertinggi pada September. Sedangkan investasi properti tumbuh 5,6 persen tahun ini. Ekspor juga meningkat pada empat bulan terakhir dan tumbuh 10 persen bulan lalu.

"Meskipun gelombang kedua [pandemi] global dan permintaan global masih menyusut, tampaknya ekspor China telah mengungguli. Jika ada, China mungkin masih mengambil pangsa pasar dari yang lain," kata Hongbin Qu, kepala penelitian ekonomi Asia di HSBC.

Sementara itu, pasar saham dan properti telah berkembang pesat selama pemulihan, meski konsumen tetap berhati-hati karena ketidakpastian mengenai dampak jangka panjang dari pandemi.

Kinerja ekonomi negara yang kuat telah membantu meningkatkan permintaan internasional untuk asetnya. Mata uang yen naik 3,8 persen tahun ini. Yen yang diperdagangkan di dalam negeri sedikit melemah menjadi 6,7011 per dolar, tetapi masih diperdagangkan mendekati level tertinggi 18 bulan.

Dilansir Bloomberg, menggenjot ekonomi dengan cepat sangat penting bagi ambisi global China. Presiden Xi Jinping selama tur di pusat teknologi Shenzhen menyampaikan seruan untuk menjadikan China pemimpin dalam teknologi dan industri strategis lainnya.

Xi kembali mempromosikan ambisi untuk menjadi lebih mandiri, sebuah kebijakan sentral dari rencana ekonomi 5 tahun yang akan dibahas pada pertemuan Partai Komunis pada akhir bulan ini.

Cui Li, kepala penelitian makro di CCB International Holdings Ltd. di Hong Kong mengatakan, fokus China pada pendorong pertumbuhan di sektor ekonomi baru seperti konsumsi, teknologi dan jasa, berarti membuat siklus ini berbeda dari kredit dan konstruksi setelah 2008.

"Siklus industri yang dipimpin oleh peningkatan ekonomi dan tidak adanya ekspansi kredit yang besar akan membuat pemulihan pertumbuhan ini lebih berkelanjutan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Covid-19 pandemi corona pemulihan ekonomi

Sumber : Financial Times

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top