Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Global Diminta Tak Tarik Dukungan Fiskal Terlalu Dini

Dengan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, IMF memandang terlalu dini bagi pembuat kebijakan untuk menarik dukungan fiskal.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  16:18 WIB
Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington D.C., AS -  Bloomberg / Andrew Harrer
Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington D.C., AS - Bloomberg / Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Dengan penularan virus Corona masih terus menyebar dan pengetatan perbatasan kembali diberlakukan, bank-bank sentral dunia mendesak pemerintah untuk tidak mengerem pengeluaran terlalu dini.

Bank-bank sentral juga mengimbau kekhawatiran mengenai melonjaknya utang, dikesampingkan sampai pemulihan ekonomi dari virus Corona tuntas.

Di sejumlah negara, seruan itu ditanggapi dengan penolakan dan dibalas dengan pernyataan bagaimana membayar upaya penyelamatan tersebut. Namun, seruan bank-bank sentral itu didukung Dana Moneter Internasional atau IMF.

Kepala ekonom IMF Gita Gopinath telah memperingatkan tentang pemulihan panjang dan penuh ketidakpastian, setelah kemerosotan terburuk dalam beberapa generasi.

Dengan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, terlalu dini bagi pembuat kebijakan untuk menarik dukungan fiskal.

Kepala Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan kekhawatiran terbesarnya adalah bantuan fiskal untuk pekerja dan bisnis ditarik terlalu tiba-tiba.

Di Amerika Serikat, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu melontarkan argumen mengenai stimulus putaran berikutnya yang menemui jalan buntu selama berbulan-bulan di Kongres. Pejabat Fed mengatakan upaya bank sentral seperti pembelian obligasi, tidak akan seefektif pengeluaran pemerintah.

Pesan dari bank sentral semakin jelas, yakni ada batasan tentang apa yang dapat dilakukan oleh kebijakan moneter dalam jangka pendek. Otoritas fiskal harus menyelesaikan pekerjaan tersebut.

"Powell dan Lagarde melawan mitos bahwa bank sentral mampu memperbaiki masalah apapun dalam ekonomi. Bank sentral tidak selalu bisa menyelesaikannya. Ini bukan kredit macet, pemotongan biaya kredit tidak akan menstimulasi ekonomi," kata Paul Donovan, kepala ekonom global di UBS Wealth Management di London, dilansir Bloomberg, Rabu (14/10/2020).

Mengingat Pemerintah Inggris yang telah mengumumkan sistem penguncian bertingkat pekan ini, Gopinath mekankan kebijakan harus secara agresif fokus pada upaya membendung kerusakan ekonomi dari krisis ini. Ekonomi Inggris diproyeksi menyusut 9,8 persen tahun ini, meningkat dari perkiraan sebelumnya yakni 10,2 persen.

Gopinath mengatakan sementara dunia sedang beradaptasi dan berupaya keras memulihkan ekonomi, krisis masih jauh dari selesai.

"Pemerintah harus terus memberikan dukungan pendapatan melalui transfer tunai yang tepat sasaran, subsidi upah, dan asuransi pengangguran," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath.

Selain itu, untuk mencegah kebangkrutan skala besar dan memastikan pekerja dapat kembali ke pekerjaan yang produktif, perusahaan yang rentan tetapi layak harus terus menerima dukungan, melalui penangguhan pajak atau moratorium pada layanan utang dan suntikan ekuitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

imf kebijakan fiskal Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top