Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penerapan Sanksi AS, Ekonom: Ada Risiko Penyitaan Aset Bank China di Luar Negeri

Menurut ekonom, melarang bank-bank China berurusan dengan sistem keuangan AS hanyalah satu dari banyak cara untuk merugikan negara itu di bidang keuangan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Agustus 2020  |  17:06 WIB
Pejalan kaki di Hong Kong - Bloomberg
Pejalan kaki di Hong Kong - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Melalui perintah eksekutif terhadap 11 pejabat Hong Kong dan China, Amerika Serikat tidak hanya dapat memberikan sanksi kepada bank-bank Negeri Panda, tetapi juga menyita aset di luar negeri.

Yu Yongding, seorang rekan senior di Akademi Ilmu Sosial China, mengatakan bahwa satu skenario yang mungkin adalah AS menjatuhkan sanksi pada bank-bank China seperti yang terjadi pada 2012 kepada Bank of China.

Namun menurut Yu, melarang bank-bank China berurusan dengan sistem keuangan AS hanyalah satu dari banyak cara untuk merugikan negara itu di bidang keuangan.

"Sanksi keuangan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, menargetkan bank atau industri tertentu," kata Yu, dilansir South China Morning Post, Kamis (13/8/2020).

Yu menyebut ancaman Trump soal penutupan operasi kepada TikTok jika tak menjual ke perusahaan AS tak pantas dilakukan. Langkah selanjutnya menjadi sulit untuk diantisipasi.

Peringatan itu mencerminkan kekhawatiran yang berkembang diantara para akademisi tentang perang finansial habis-habisan antara AS dan China. Banyak pihak mengatakan AS akan mendapat keuntungan yang jelas berkat peran dominan dolar AS di lintas perbatasan investasi dan pembayaran.

Yu mengatakan China menghadapi serangkaian ancaman dari AS dalam hal pembatasan keuangan. Ketika Bank of Kunlun, misalnya, diberi sanksi oleh Departemen Keuangan AS karena membiayai pengiriman minyak dengan Iran, lembaga keuangan itu diputus dari sistem pembayaran dolar.

"Sanksi seperti itu pernah digunakan sebelumnya. AS dapat terus menggunakannya di masa depan. Kita harus sangat berhati-hati," kata Yu.

Selain itu, Yu mengatakan Washington dapat mengenakan denda besar pada bank-bank China agar mematuhi tuntutan AS.

Sementara itu, People's Bank of China (PBOC) sejauh ini belum mengambil sikap apa pun. Perdebatan yang memanas di antara para ekonom dan analis di China adalah spekulasi

apakah AS dapat menggunakan Clearing House Interbank Payments System (Chips) dan Society of Worldwide Interbank Financial Telecommunication (Swift) untuk mencoba memotong China dari sistem dolar AS.

Yu mengatakan opsi Beijing terbatas dan harus bersiap untuk skenario terburuk. Pada saat yang sama, Washington belum siap untuk bertindak ekstrem seperti itu.

Strategi Presiden Xi Jinping yang berfokus pada pasar domestik sebagai perlindungan dari situasi eksternal yang tidak bersahabat dinilai merupakan pilihan yang tepat mengingat risiko pemisahan keuangan dan sanksi.

"Dari perspektif jangka panjang, penyesuaian seperti itu akan sangat meningkatkan keamanan finansial China dan meminimalkan kerugian perang finansial AS,” kata Yu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan china amerika serikat
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top