Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Remitansi Global Merosot, Ini Faktor Penyebabnya

Pengiriman uang internasional tahun lalu sebanyak US$554 miliar lebih tinggi dari aliran investasi langsung asing ke negara-negara berkembang senilai US$540 miliar.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  15:40 WIB
Peserta berdiri di dekat logo Bank Dunia dalam rangkaian Pertemuan IMF - World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo
Peserta berdiri di dekat logo Bank Dunia dalam rangkaian Pertemuan IMF - World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Dunia memproyeksi pengiriman uang atau remitansi global akan menurun 20 persen pada tahun ini dibandingkan 2019. Tahun lalu, aliran remitansi ke negara-negara berkembang mencatatkan sejarah dengan mengungguli investasi asing.

Pengiriman uang internasional tahun lalu sebanyak US$554 miliar lebih tinggi dari aliran investasi langsung asing ke negara-negara berkembang senilai US$540 miliar.

Dilip Ratha, Ekonom Migrasi dan Remitansi Bank Dunia mengatakan angka pengiriman itu belum memperhitungkan sebagian besar uang yang pergi ke beberapa negara berkembang seperti Venezuela.

"Dari level itu, pada 2020 pengiriman uang diperkirakan akan menurun sebesar 20 persen atau sekitar US$109 miliar, menjadi US$445 miliar. Dalam aliran FDI, kami melihat penurunan 37 persen," katanya dilansir Bloomberg, Senin (3/8/2020).

Dia menjelaskan, dampak pandemi terhadap remitansi global sangat signifikan dipengaruhi beberapa faktor. Sekitar satu miliar orang merupakan pendatang, 272 juta lainnya migran internasional, dan sekitar 760 juta adalah orang yang bermigrasi di dalam negeri. Adapun 70 persen migrasi internasional berada di Afrika.

Selain itu, fakta lainnya yakni pengiriman uang dilakukan oleh individu ke keluarga mereka dalam jumlah kecil sehingga miliaran orang terkena dampak. Di beberapa negara, pengiriman uang lebih dari sepertiga dari pendapatan nasional, misalnya, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Nepal, Haiti, dan Somalia.

Ada sekitar 60 negara di mana pengiriman uang berkontribusi lebih dari 5 persen dari pendapatan nasional. Di India, pengiriman uang hampir dua kali lipat dari investasi langsung asing.

"Jadi, jika Anda ada penurunan 20 persen, Anda sedang melihat krisis besar," ujarnya.

Bagian dari penurunan ini terkait dengan larangan perjalanan, penguncian dan aturan sosial yang mengurangi pendapatan migran atau menyebabkan pengangguran.

Selain itu juga kemampuan para migran mengirim uang ke rumah telah terganggu karena bank dan sistem transfer uang ditutup.

Turunnya harga minyak berdampak pada pengiriman uang dari negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerjasama untuk Negara Arab di Teluk dan Rusia. Pengiriman uang dari Rusia juga turun karena rubel telah melemah secara signifikan terhadap dolar AS.

Aliran pengiriman uang ke Pakistan telah turun 32 persen pada Mei secara year-on-year dari UEA dan turun 12 persen dari Arab Saudi. Dalam kasus Filipina, ada penurunan 39 persen dalam pengiriman uang dari Kuwait pada Maret dan 20 persen dari UEA.

"Dugaan saya adalah kita akan melihat penurunan yang jauh lebih signifikan dalam aliran pengiriman uang dari negara-negara GCC ke Bangladesh, Pakistan, India dan Nepal," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia remitansi Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top