Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un (kiri) bergandengan tangan dengan Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in ketika melintasi garis demarkasi antara kedua negara ke arah Korut di Panmunjom, Paju, Korsel, Jumat (27/4/2018)./Bloomberg - Inter/Korean Summit Press Corps
Premium

Balon Propaganda dan Masa Depan Unifikasi Semenanjung Korea

24 Juni 2020 | 08:05 WIB
Harapan terwujudnya perdamaian Korea Utara-Korea Selatan kembali kandas setelah Kim Jong-un menghancurkan kantor penghubung kedua negara. Ada apa di balik memanasnya tensi di Semenanjung Korea?

Bisnis.com, JAKARTA — Bulan Juni 2020 merupakan momen penting yang menandai tonggak penting perjalanan perdamaian di Semenanjung Korea.

Selain menjadi waktu pertama kali digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel), juga menjadi momen peringatan Perang Korea dan peringatan pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong-un.

Sayangnya, peringatan ini tidak akan dirayakan secara gembira sejak peristiwa peledakan kantor penghubung Korut-Korsel pada Selasa (16/6/2020). Sekitar sepekan sebelumnya, tepatnya pada Selasa (9/6), Korut telah menutup segala akses komunikasi dengan Korsel.

Pada Sabtu (13/6), adik Kim Jong-un, Kim Yo-jong juga sempat menyebut upaya unifikasi kedua negara itu sebagai sampah yang layak dibuang ke tempat sampah dalam wawancaranya kepada KCNA.

Kembali panasnya tensi di antara dua Korea ini berawal dari sebuah balon udara yang berisi propaganda anti Korut. Orang-orang yang melarikan diri dari Korut dan kini tinggal di Korsel sudah sejak lama secara teratur mengirimkan selebaran menggunakan balon udara, bersama dengan makanan, uang kertas US$1 dolar, radio mini, dan USB yang berisi tayangan drama dan berita Korsel.

Akibatnya, administrasi Kim Jon-un berulang kali mengecam Korsel sebagai bentuk protes terhadap selebaran propaganda anti Pyongyang yang dikirim oleh kelompok pembelot dan aktivis di sepanjang perbatasan.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top