Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Petugas Kementerian Agama melintas di kawasan UPT Asrama Haji Embarkasi Medan, Sumatera Utara, Selasa (2/6/2020). Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan untuk meniadakan atau membatalkan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 2020 ini mengingat pandemi COVID-19 masih melanda hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia dan Arab Saudi. - ANTARA FOTO/Septianda Perdana
Premium

Polemik Pembatalan Haji 2020

03 Juni 2020 | 19:26 WIB
Meski Pemerintah Arab Saudi belum memberikan keputusan apapun terkait pelaksanaan ibadah haji 2020, tapi Pemerintah Indonesia sudah lebih dulu membatalkan penyelenggaraannya. Apa dampaknya?

Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Pemerintah Indonesia membatalkan ibadah haji 2020 menimbulkan serangkaian konsekuensi, baik bagi jemaah haji yang sudah membayar, kerugian bagi agen perjalanan, hingga wacana realokasi anggaran haji untuk menangani Covid-19.

Indonesia menjadi negara kedua setelah Singapura yang memutuskan untuk membatalkan ibadah haji pada tahun ini, di tengah mewabahnya pandemi Covid-19. Adapun negara lain seperti Pakistan, masih bernegosiasi dengan Pemerintah Arab Saudi untuk memperbolehkan digelarnya ibadah haji 2020.

Keputusan pemerintah ini ditengarai akibat tidak kunjung keluarnya keputusan Arab Saudi terkait penyelenggaraan ibadah haji di negara tersebut. Meski sudah mulai merelaksasi lockdown sejak akhir pekan lalu, yang ditandai dengan dibukanya 90.000 masjid di sejumlah kota, tapi hingga kini Riyadh belum memberi kepastian tentang pelaksanaan ibadah haji.

Dilansir dari Saudi Press Agency, Rabu (3/6/2020), masjid-masjid yang dibuka sudah lebih dulu disterilisasi untuk menjamin kebersihan dan keamanan dari penyebaran virus corona.Protokol kesehatan juga diterapkan dengan cara memastikan dipenuhinya pembatasan sosial dengan jarak 2 meter, mengenakan masker, membuka masjid 15 menit sebelum adzan, dan menutup masjid 10 menit setelah salat.

Dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Selasa (2/6), Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan apabila pelaksanaan ibadah haji dilakukan, petugas tidak lagi memiliki waktu cukup untuk mempersiapkan berbagai keperluan seperti visa, akomodasi, dan layanan perlindungan.

Petugas harus mempersiapkan kesehatan jemaah dimulai dari karantina 14 hari sebelum masuk ke asrama haji serta 14 hari karantina saat di Arab Saudi, termasuk harus mengikuti tes kesehatan.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top