Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Warga memadati kawasan pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang saat penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta, Minggu (17/5/2020). Meski pertokoan di Pasar Tanah Abang tutup karena PSBB, menjelang hari lebaran kawasan tersebut dipadati pedagang kaki lima yang berada di gang-gang dekat pasar. - Bisnis/Himawan L Nugraha
Premium

Tagar Terserah Indonesia dan Potret Ketidakpastian Penanganan Corona di Indonesia

20 Mei 2020 | 10:16 WIB
Arah penanganan pandemi virus corona yang seakan berbanding terbalik dengan target tak ayal membuat para tenaga medis kewalahan. Padahal, angka kasus positif Covid-19 di Indonesia terus bertambah.

Bisnis.com, JAKARTA — Dialog dengan tagar #TerserahIndonesia dan #IndonesiaTerserah di linimasa Twitter sempat menjadi pusat lampu sorot dalam beberapa hari terakhir. Sebagian besar dari dialog-dialog ini berisi kritik pedas, tak jarang berupa umpatan terhadap sikap sebagian masyarakat yang kedapatan tak mengindahkan protokol Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait pandemi virus corona.

Beberapa pelanggaran protokol yang kerap jadi bahan kritik misalnya penumpukan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, banjir antrean saat penutupan gerai McD Sarinah, hingga kegiatan jual beli di sejumlah pasar menjelang berbuka.

Yang kemudian menambah ironi, tak sedikit dokter, perawat, atau tenaga medis lainnya ikut menyuarakan keresahan mereka lewat kampanye ini.

“Jangan kita biarkan #IndonesiaTerserah berlanjut jadi #IndonesiaMenyerah. Saya tidak ingin tenaga medis dianggap abai dan tidak peduli terhadap nasib rakyat dan kondisi negara,” ujar dokter spesialis penyakit dalam, dr. Andi Khomeini Takdir, yang juga dikenal sebagai pendiri Junior Doctors Network (JDN) melalui akun Twitter-nya, Senin (18/5/2020).

Hal senada diutarakan Wawan (42), bukan nama sebenarnya, seorang tenaga medis dari RSUD Dr Moewardi Surakarta. Dia menilai sikap abai masyarakat terhadap social distancing seolah menyia-nyiakan pengorbanan waktu dan tenaga yang sudah dicurahkan tenaga medis.

“Kecewa melihat kondisi yang seperti itu, karena jika keselamatan masyarakat makin terancam, itu artinya keselamatan kami juga makin dalam bahaya,” ungkap Wawan.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top