Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Di Tengah Corona, Badai Amphan Bikin Sibuk India & Bangladesh

Pemerintah di India dan Bangladesh mengevakuasi puluhan ribu warga yang tinggal di pesisir laut untuk menghindari badai Amphan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 Mei 2020  |  20:57 WIB
Badai menerjang Allahabad, India, pada Oktober 2017. - Antara/Reuters
Badai menerjang Allahabad, India, pada Oktober 2017. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah di India dan Bangladesh mengevakuasi puluhan ribu warga yang tinggal di pesisir laut untuk menghindari angin topan Amphan yang dapat merusak banyak bangunan saat dua negara itu masih berjuang menghadapi pandemi corona jenis Covid-19.

Tenda-tenda karantina di India untuk menangani pasien Covid-19 dialihkan untuk para pengungsi. Petugas pun berupaya memastikan pengungsi tetap menjaga jarak satu sama lain untuk mencegah penularan penyakit.

Di Bangladesh petugas mengevakuasi warga ke dataran lebih tinggi dan meminta mereka menjaga jarak serta mengenakan masker. Pemerintah Bangladesh mencatat lebih dari 20.995 orang tertular virus dan 314 di antaranya meninggal.

Kantor urusan cuaca di India mengatakan Badai Amphan memilki pusaran angin yang berputar sampai lebih dari 240 kilometer per jam (kmh) atau 145 mil per jam (mph), disertai hembusan angin bergerak sekitar 265 kph atau 165 mph. Angin diperkirakan berputar di Teluk Bengal pada Senin malam dan akan tiba di darat pada Rabu (20/5).

Menurut beberapa pejabat terkait, angin dengan kecepatan demikian menjadikan Amphan sebagai badai terbesar di India dalam 10 tahun terakhir.

Bencana alam itu terjadi saat India telah melonggarkan aturan karantina yang diberlakukan pada April guna mengendalikan penyebaran Covid19. Penyakit menular itu telah menjangkiti lebih dari 100.000 jiwa di India dan menewaskan 3.163 orang.

Negara bagian Odisha dan West Bengal di India telah mengevakuasi warga ke lebih dari 1.000 tenda pengungsi yang berada di kantor-kantor pemerintah dan pusat pendidikan. Otoritas setempat juga masih berupaya mengalihkan tempat isolasi pasien Covid-19 menjadi tenda darurat.

"Kami hanya punya waktu 6 jam untuk mengevakuasi warga dari rumah dan kami juga harus mematuhi aturan jaga jarak... badai ini dapat menghancurkan ribuan rumah dan perkebunan," kata S.G Rai, pejabat kantor penanganan bencana federal di India pada Selasa (19/5/2020).

Sementara itu, perjalanan kereta yang mengangkut ribuan pekerja migran dari ibu kota India, New Delhi, ke negara bagian di wilayah timur, dialihkan untuk menghindari badai. Para pekerja mulai berpergian menggunakan kereta setelah pemerintah melonggarkan aturan karantina wilayah.

India, negara dengan garis pantai sepanjang 7.516 kilometer (4.670 mil), rentan diterjang sepersepuluh dari seluruh badai dunia. Sebagian besar angin topan bertiup di pesisir timur.

Di Bangladesh petugas meningkatkan operasi penyelamatan karena angin topan dapat menyebabkan badai terburuk dalam 15 tahun terakhir di negara dataran rendah itu.

Distrik-distrik di wilayah pesisir Bangladesh terancam kena banjir rob dari laut disertai hujan deras dan angin kencang sampai 160 kph (98 kph) selama badai berlangsung.

"Kami telah menyiapkan 12.000 pusat penanggulangan siklon yang dapat menampung lebih dari lima juta jiwa. Kami juga telah memberlakukan sejumlah aturan sehingga warga dapat menjaga jarak dan tetap memakai masker," kata utusan Kementerian Penanggulangan Bencana, Enamur Rahman, di Dhaka.

Wilayah pesisir di Bangladesh, rumah bagi 30 juta jiwa, sering diterjang badai sehingga raturan ribu orang tewas akibat bencana itu dalam puluhan tahun terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india topan bangladesh

Sumber : Antara/Reuters

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top