Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sssstt! Diam-Diam The Fed Incar Kenaikan Laju Inflasi

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan upaya bank sentral untuk berhenti memerangi perlambatan laju inflasi atau disinflasi global.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  12:11 WIB
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell. -  REUTERS / Yuri Gripas
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell. - REUTERS / Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengisyaratkan upaya bank sentral untuk berhenti memerangi perlambatan laju inflasi atau disinflasi global.

Hal ini juga merupakan pertanda bahwa bank sentral AS mulai mengambil ancang-ancang untuk menyudahi kebijakan moneternya 'dovish' saat ini.

Setelah mengumumkan langkah mempertahankan suku bunga acuannya, Powell mengatakan Fed bermaksud menghindari penurunan laju inflasi yang membuat negara-negara lain kebingungan.

"Kami telah melihat dinamika ini terjadi di negara-negara lain di seluruh dunia, dan kami bertekad untuk menghindarinya di AS," katanya, dilansir Bloomberg, Kamis (30/1/2020).

Pernyataan pascapengumuman Fed itu menyiratkan bahwa bank sentral AS tersebut bergerak menuju perubahan besar dalam cara menafsirkan mandat stabilitas harga ketika menyelesaikan tinjauan kebijakannya.

"The Fed benar-benar ingin menyampaikan bahwa mereka berharap inflasi bergerak di atas 2 persen karena ingin melihat ekspektasi inflasi naik," kata Robin Anderson, ekonom senior di Principal Global Investors.

Di bawah pendekatan baru yang ditekankan Powell masih dalam pertimbangan, bank sentral akan mencoba untuk melampaui melesetnya target persen inflasi. Dengan inflasi yang berjalan lebih atau kurang konsisten di bawah tujuan tersebut, kemungkinan akan membuat the Fed lebih lunak karena pembuat kebijakan berupaya untuk menaikkan harga dan ekonomi.

"Kami tidak puas dengan inflasi yang berjalan di bawah 2 persen, terutama pada saat sekarang ketika kami jauh dari ekspansi," kata Powell.

Indeks tekanan harga yang disukai Fed, yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, naik 1,5 persen selama 12 bulan yang berakhir pada November 2019.

Fed memperkirakan inflasi akan bergerak mendekati 2 persen selama beberapa bulan ke depan setelah menyentuh level yang sangat rendah pada awal 2019.

Powell puas dengan langkah kebijakan moneter Fed, setelah memotong suku bunga tiga kali tahun lalu. Bank sentral kemungkinan akan tetap mempertahankan pandangannya kecuali jika prospek ekonomi berubah secara material.

Tentu saja, Fed mengenyampingkan apa yang diinginkan oleh Presiden Trump yang kembali menyerukan penurunan suku bunga pada awal minggu ini.

Ketidakpastian perdagangan telah mereda meskipun tidak hilang sepenuhnya, sementara pertumbuhan global masih akan melemah dengan dampak ekonomi dari penyebaran virus corona yang masih liar.

Seperti perkiraan analis tentang perubahan signifikan, Fed mengubah arah kebijakannya dalam pertemuan bulan ini dan menekankan tekad untuk mencapai target inflasi 2 persen. Powell menekankan kenaikan harga perlu kembali ke tingkat sasaran, bukan di bawahnya.

"Saya pasti berpikir itu cenderung dovish dan memperkuat komitmen [The Fed] untuk mencapai reflasi," kata pengamat ekonomi dari MacroPolicy Perspectives LLC di New York Laura Rosner.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed the fed

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top