Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Posisi Laut Natuna Utara yang menjadi polemik antara Indonesia dengan China.  -  Reuters
Premium

Historia Bisnis : Natuna dan Proyek Pipa Gas antara Indonesia-China

07 Januari 2020 | 17:17 WIB
Relasi Indonesia dan China dalam urusan Perairan Natuna itu tidak selamanya ‘panas’. Ada upaya-upaya pendekatan yang dilakukan oleh kedua negara itu dalam proyek di Natuna.

Bisnis.com, JAKARTA — Perairan Natuna kembali memanas pascapatroli kapal-kapal dari China di kawasan tersebut. Sikap Indonesia terhadap Natuna jelas bahwa keberadaan kapal dari China itu melanggar batas wilayah.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa sebagai negara yang menjadi anggota United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) sejak 1982, China atau Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memiliki kewajiban untuk mematuhi apa yang ada di UNCLOS.

“Nah, apa yang ada di antara lain mengatur mengenai masalah ZEE [Zona Ekonomi Eksklusif] dan sebagainya, sehingga ZEE, penarikan-penarikan garis yang terkait dengan ZEE dan sebagainya yang di Indonesia itu sudah sesuai. Kita hanya ingin Tiongkok mematuhi hukum internasional termasuk di UNCLOS,” kata Retno dikutip dari keterangan resmi di Sekretariat Kabinet, Selasa (7/1/2020).

Banyak yang menyebut Natuna memiliki potensi alam yang kaya sehingga menarik untuk di eksplorasi oleh sejumlah negara.

Menariknya, dalam sejarahnya relasi Indonesia dan China dalam urusan Perairan Natuna itu tidak selamanya ‘panas’. Ada upaya-upaya pendekatan yang dilakukan oleh kedua negara itu dalam proyek di Natuna.

Harian Bisnis Indonesia edisi 9 Oktober 1996 pernah menurunkan artikel terkait dengan rencana kerja sama pembangunan pipa gas Indonesia ke China.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top