Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Hong Kong Turun untuk 12 Bulan Berturut-turut

Rilis pemerintah menunjukkan ekspor terkontraksi menjadi 348,5 miliar dolar Hong Kong atau senilai US$44,5 miliar, turun 9,2% dari tahun lalu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 November 2019  |  18:53 WIB
Warga Hong Kong pro China mengibarkan bendera China dan berbagai poster dalam aksi unjuk rasa mendukung Beijing serta polisi Hong Kong di gedung Dewan Legislatif di Hong Kong, China, Sabtu (16/11/2019). - Reuters/Athit Perawongmetha
Warga Hong Kong pro China mengibarkan bendera China dan berbagai poster dalam aksi unjuk rasa mendukung Beijing serta polisi Hong Kong di gedung Dewan Legislatif di Hong Kong, China, Sabtu (16/11/2019). - Reuters/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor Hong Kong turun untuk 12 bulan berturut-turut pada Oktober setelah pusat keuangan tersebut terperosok dalam resesi di bawah tekanan perang dagang AS dan China dan protes pro-demokrasi.

Rilis pemerintah menunjukkan ekspor terkontraksi menjadi 348,5 miliar dolar Hong Kong atau senilai US$44,5 miliar, turun 9,2% dari tahun lalu.

Perkiraan median mmenyebutkan penurunan 8,4%, menurut ekonom yang disurvei oleh Bloomberg.

Sementara itu, impor turun 11,5% dari tahun lalu, mempersempit defisit perdagangan menjadi 30,6 miliar dolar Hong Kong.

"Kinerja ekspor Hong Kong kemungkinan akan tetap lemah untuk sementara, karena pertumbuhan ekonomi global yang redup dan ketidakpastian yang berasal dari kebijakan perdagangan AS terus mengurangi permintaan eksternal," kata juru bicara pemerintah, dikutip melalui Bloomberg, Selasa (26/11/2019).

Ekonomi Hong Kong dengan cepat kehilangan momentum sejak awal tahun ini dan jatuh ke dalam resesi pertama dalam 1  dekade terakhir pada kuartal ketiga.

Statusnya sebagai pusat perdagangan regional telah membuat kota ini terekspos pada konflik perdagangan, sedangkan aksi protes yang berlangsung selama lebih dari 5  bulan telah merugikan industri ritel, restoran, hotel dan industri jasa lainnya.

Namun, ada optimisme yang berkembang bahwa perundingan China dan AS mengalami kemajuan dalam perundingan perdagangan.

"Kedua negara telah mencapai konsensus tentang penyelesaian masalah yang relevan dan setuju untuk tetap melanjutkan diskusi dengan poin-poin yang tersisa untuk kesepakatan perdagangan fase satu," Kementerian Perdagangan China mengatakan dalam sebuah pernyataan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top