Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Tuding AS sebagai Sumber Instabilitas Dunia

Amerika Serikat adalah sumber ketidakstabilan terbesar di dunia dan politisi AS di seluruh dunia telah mempermalukan China, menurut diplomat China terkemuka dalam satu serangan pada pertemuan G20 di Jepang kemarin.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 November 2019  |  16:15 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat adalah sumber ketidakstabilan terbesar di dunia dan politisi AS di seluruh dunia telah mempermalukan China, menurut diplomat China terkemuka dalam satu serangan pada pertemuan G20 di Jepang kemarin.

Hubungan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu memburuk di tengah perang dagang yang ketat dan masih mencari jalan penyelesaian. Sedangkan isu yang membelit persaingan itu termasuk soal hak asasi manusia, aksi protes di Hong Kong, dan dukungan AS untuk Taiwan.

Bertemu dengan Menteri Luar Negeri Belanda Stef Blok di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri G20 di Nagoya, Anggota Dewan Negara Tiongkok Wang Yi tidak mampu menyembunykan kritiknya terhadap Amerika Serikat.

"Amerika Serikat secara luas terlibat dalam unilateralisme dan proteksionisme, dan merusak multilateralisme dan sistem perdagangan multilateral. Ini telah menjadi faktor destabilisasi terbesar di dunia," kata Menteri Luar Negeri China itu seperti dikutip Reuters, Minggu (24/11).

Amerika Serikat, demi tujuan politik, telah menggunakan posisi negaranya untuk menekan bisnis-bisnis China yang sah dan. Pemerintah AS juga tanpa dasar mengajukan tuntutan terhadap pelaku bisnis itu yang merupakan tindakan intimidasi, katanya.

"Beberapa politisi AS telah memfitnah China di mana-mana di dunia, tetapi belum menunjukkan bukti," kata Wang. Amerika Serikat juga menggunakan hukum domestiknya untuk "secara kasar mencampuri" urusan dalam negeri China, berusaha merusak "satu negara, dua sistem" dan stabilitas dan kemakmuran Hong Kong, tambahnya.

China marah minggu ini setelah Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan dua RUU untuk mendukung pengunjuk rasa di Hong Kong dan mengirim peringatan ke China tentang hak asasi manusia. Presiden Donald Trump diperkirakan akan menandatangani RUU itu menjadi undang-undang, meskipun pembicaraan perdagangan dengan Beijing masih berjalan.

China menjalankan Hong Kong di bawah model "satu negara, dua sistem" dan wilayah itu menikmati kebebasan yang tidak dinikmati di daratan China seperti kebebasan bebas. Banyak orang di Hong Kong khawatir Beijing akan mengikis kebebasan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top