Cara Unik Sri Mulyani Ajarkan Toleransi

Menteri Keuangan Sri Mulyani punya cara unik untuk mengajarkan toleransi ke pegawainya yakni dengan membuat program adopsi anak dengan latar belakang budaya berbeda.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  14:39 WIB
Cara Unik Sri Mulyani Ajarkan Toleransi
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi keynote speaker dalam The 14th Gaikindo International Automotive Conference di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (24/7). - BISNIS.COM/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, DEPOK -  Menteri Keuangan Sri Mulyani punya cara unik untuk mengajarkan toleransi ke pegawainya yakni dengan membuat program adopsi anak dengan latar belakang budaya berbeda.

Menurut Sri Mulyani program yang bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Bhinneka Tunggal Ika tersebut, telah berjalan dua tahun lamanya.

Lewat program itu, masing-masing pegawai yang telah berstatus orangtua diminta untuk mengadopsi anak dengan latar belakang budaya berbeda.

Adopsi pun hanya dilalukan satu minggu sebagai cara untuk memahami perbedaan budaya masing-masing. Masa adopsi juga dipilih pada saat libur sekolah anak. 

Program ini dinilai telah cukup berhasil mengajarkan toleransi kepada pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan.

"Saya tanya keduanya [orang tua dan anak setelah satu minggu], betapa mengejutkan pandangan antara anak dan orangtua tersebut," kata Sri Mulyani, Sabtu (12/10/2019) saat mengisi paparan Mini Symposium : Diversity & Healthy Relationship di Universitas Indonesia, Depok. 

Selain itu, Kementerian Keuangan juga menerapkan rekrutmen pegawai dengan latar belakang berbeda atau tidak homogen dari satu lembaga pendidikan.

Hal tersebut dinilai akan meningkatkan keberagaman dan toleransi di lingkungan Kementerian Keuangan.

Sri Mulyani meyakinidengan latar belakang yang beragam, kebijakan-kebijakan yang dibuat Kementerian Keuangan tidak hanya menguntungkan satu pihak. Kebijakan tersebut akan dibuat menyesuaikan dengan keberagaman Indonesia. 

"Jika hanya didominasi satu perguruan tinggi dan alumni akan merefleksi kebijakan yang dibuat dan dengan itu berbahaya untuk Indonesia sebagai negara yang beranekaragam," katanya.

Sri Mulyani rupanya juga membuat training khusus untuk pegawainya dalan mengajarkan keberagaman. Bahkan, dia kerap membuat dialog antarpegawai dalam membahas mengenai satu persepsi akan agama maupun budaya tertentu.

"Saya punya direksi beragama Hindu, dan bawahannya tidak suka dengan pemimpin yang berbeda dengannya. Bahkan, patung yang dibawa oleh pimpinannya tersebut dibuang. Ketika saya buka diskusi saya dapat report ini," ujar Sri Mulyani. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sri mulyani, toleransi

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top