Minta Kejelasan Batas Waktu SP3, Dua Tersangka Ajukan Uji Materi ke MK

Andrias Lutfi Susiyanto dan Evan Waluyo Rostanadji pun mencari keadilan di MK. Keduanya saat ini mengaku masih berstatus tersangka berdasarkan penetapan penyidik Polri di daerah.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  13:39 WIB
Minta Kejelasan Batas Waktu SP3, Dua Tersangka Ajukan Uji Materi ke MK
Petugas keamanan melintas di depan Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (23/5/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA -- Tiadanya batas waktu penerbitan SP3 dalam KUHAP meresahkan tersangka nontipikor. Melalui permohonan uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK), SP3 diminta direvisi dalam KUHAP, 

Andrias Lutfi Susiyanto dan Evan Waluyo Rostanadji pun mencari keadilan di MK. Keduanya saat ini mengaku masih berstatus tersangka berdasarkan penetapan penyidik Polri di daerah.

Andrias mendapatkan pemberitahuan sebagai tersangka pada 7 Februari 2018 atau sudah 20 bulan menyandang status tersebut. Adapun, Evan mengalami nasib serupa sejak 19 Desember 2018 atau selama 10 bulan ini.

Keduanya sama-sama memohonkan pengujian Pasal 109 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) KUHAP. Alasannya, tiga materi tersebut tidak mencantumkan kepastian berapa lama seseorang bisa berstatus tersangka.

Muhammad Isrok, kuasa hukum pemohon dari firma hukum M. Isrok dan Rekan, menilai ketidakpastian hukum muncul karena ketiadaan jangka waktu tertentu untuk menghentikan penyidikan.

“Sebagai negara hukum, Indonesia wajib menjunjung tinggi supremasi hukum dengan mengedepankan asas legalitas atau kepastian hukum,” ujarnya dalam berkas permohonan, dikutip Bisnis.com, Minggu (6/10/2019).

Pasal 109 ayat (1) berbunyi, "Dalam hal penyidik telah melakukan penyidikan suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana, penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum."

Selanjutnya, Pasal 109 ayat (2) berbunyi, "Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka, atau keluarganya."

Sementara itu, Pasal 109 ayat (3) berbunyi, "Dalam hal penghentian tersebut pada ayat (2) dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 (ayat) 1 huruf b, pemberitahuan mengenai hal itu segera disampaikan kepada penyidik dan penuntut umum."

Pemohon meminta tiga ayat tersebut ditafsirkan MK agar berisi kejelasan mengenai batas waktu proses penyidikan. Bila batas waktu berakhir, maka demi hukum penyidikan harus dihentikan atau diterbitkan SP3.

Pemohon tidak mencantumkan permintaan jangka waktu tertentu bagi penyidik untuk mengeluarkan SP3. Terkait dengan jangka waktu, pemohon menyerahkan sepenuhnya kepada MK.

Itok berharap MK dapat memberikan kepastian hukum serupa ketika menetapkan tempo penyampaian surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP).

Dalam Putusan MK No. 130/PUU-XIII/2015, SPDP wajib disampaikan kepada jaksa penuntut umum, terlapor, dan pelapor paling lama 7 hari setelah dikeluarkannya surat perintah penyidikan (sprindik).

“Latar belakang adanya putusan tersebut karena Pasal 109 (ayat) 1 KUHAP tidak mengatur berapa lama batas waktu pemberitahuan SPDP kepada jaksa penuntut umum, tersangka, korban, sehingga menyebabkan ketidakpastian hukum dan telah merugikan hak konstitusional pemohon tersebut," ujar Itok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mahkamah konstitusi

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top