Turun Hujan, Kualitas Udara Wilayah Terdampak Karhutla Membaik

BMKG menyatakan kualitas udara di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membaik.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 29 September 2019  |  21:54 WIB
Turun Hujan, Kualitas Udara Wilayah Terdampak Karhutla Membaik
Ilustrasi: Tim gabungan sedang memadamkan kebakaran hutan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan kualitas udara di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membaik.

"Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dalam seminggu terakhir di wilayah terdampak cukup membantu menurunkan jumlah titik panas dan konsentasi debu polutan akibat karhutla," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal melalui keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (29/9/2019).

Pemantauan jumlah hari hujan BMKG menunjukkan di Jambi dan Riau sudah mendapatkan 1 hari - 5 hari hujan, sementara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah baru turun hujan dalam beberapa hari terakhir.

Kemarin, Stasiun BMKG Jambi mencatat curah hujan 11 mm/hari, sedangkan di Stasiun Juwata, Kalimantan, hujan tercatat 19 mm/hari.

"Selain karena faktor alam, perlu dicatat pula bahwa turunnya hujan dapat juga merupakan hasil dari kegiatan penyemain awan atau istilah teknisnya modifikasi cuaca hujan buatan," kata Herizal.

Dalam membuat hujan buatan tersebut, BMKG menyediakan data dan informasi kondisi cuaca yang digunakan sebagai dasar dan syarat penyemaian awan dengan inti kondensasi berupa garam dari pesawat.

Selain itu, BMKG juga melakukan monitoring setiap 30 menit atas kondisi atmosfer dan sebaran titik panas skala 10 menit yang merupakan hasil dari satelit Himawari 8, menganalisis data meteorologis, dan memprakirakan kondisi cuaca di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan sehingga dapat memberikan rekomendasi dalam hal penentuan lokasi potensi pertumbuhan hujan hujan yang akan dijadikan target dalam operasi penyemaian.

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT telah melaksanakan penyemaian awan di Riau, kemudian berlanjut di beberapa wilayah lain seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Hasil monitoring jumlah hotspot di Sumatra dan Kalimantan selama dilaksanakan teknologi modifikasi cuaca, jumlah hotspot menurun drastis jika sehari sebelumnya terjadi hujan dengan skala luas.

Artinya, hujan adalah solusi paling efektif dalam mengurangi bencana kebakaran hutan.

Herizal menjelaskan turunnya hujan juga berimbas pada meningkatnya kualitas udara. Setelah turun hujan, konsentrasi debu polutan berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dapat turun secara drastis enam hingga delapan kali lipat.

Akibat karhutla, konsentrasi paling timggi PM10 dapat mencapai lebih dari 500 ug/m3 pada jam-jam tertentu. Saat ini secara umum, konsentrasi PM10 berada pada level 50 - 100 ug/m3 terukur di Sampit, Pekanbaru, dan Palangkaraya, kategori sedang.

"Bahkan di Jambi dan Pontianak, kualitas udara saat ini dikategorikan baik pada konsentrasi kurang dari 50 ug/m3," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
BMKG, Karhutla

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top