Carrie Lam Akan Umumkan Pembatalan RUU Ekstradisi Hong Kong

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam disebut akan mengumumkan pembatalan resmi rancangan undang-undang ekstradisi pada hari Rabu (4/9/2019), yang telah menjadi tuntutan utama aksi demonstrasi yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 September 2019  |  14:50 WIB
Carrie Lam Akan Umumkan Pembatalan RUU Ekstradisi Hong Kong
Chief Executive Hong Kong Carrie Lam. - Reuters/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA – Pemimpin Hong Kong Carrie Lam disebut akan mengumumkan pembatalan resmi rancangan undang-undang ekstradisi pada hari Rabu (4/9/2019), yang telah menjadi tuntutan utama aksi demonstrasi yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Dilansir Reuters, aksi demonstrasi di wilayah bekas jajahan Inggris tersebut imulai pada Juni atas RUU yang akan memungkinkan ekstradisi warga yang akan diadili ke daratan China, di mana pengadilan dikendalikan oleh Partai Komunis.

Sejak saat itu, aksi itu telah berkembang menjadi dorongan untuk demokrasi yang lebih besar.

Seorang sumber dari pemerintah Hong Kong mengkonfirmasi rencana tersebut kepada Reuters, namun kantor kepala eksekutif belum memberikan komentar terkait rencana ini.

Namun, belum jelas apakah pengumuman itu akan membantu mengakhiri aksi demonstrasi.

Indeks Hang Seng melonjak setelah laporan tersebut dan diperdagangkan naik sekitar 3,3 persen, dengan sektor properti melonjak hingga 6 persen.

Penarikan RUU adalah salah satu tuntutan utama para demonstran. Lam telah mengatakan sebelumnya bahwa proses RUU tersebut "dihentikan" tetapi dia belum menariknya.

Hong Kong kembali ke China dari tangan Inggris di bawah formula "satu negara, dua sistem" yang memungkinkan wilayah tersebut mendapatkan kebebasan yang tidak dinikmati di China daratan, seperti kebebasan untuk memprotes serta memiliki sistem hukum yang independen.

Sebelumnya, tersiar rekaman audio yang memperdengarkan kesediaan Pemimpin Hong Kong Carrie Lam untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Menurut rekaman audio dari komentarnya yang diutarakan kepada sekelompok pengusaha pekan lalu, Lam mengakui telah menyebabkan "malapetaka tak termaafkan" dengan memicu krisis politik di kota itu dan menyatakan akan berhenti jika memiliki pilihan.

Dalam pertemuan tertutup itu, Lam mengatakan bahwa ia kini memiliki ruang yang "sangat terbatas" untuk menyelesaikan krisis karena kerusuhan telah menjadi masalah keamanan dan kedaulatan nasional bagi China di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

Namun, Carrie Lam mengecam perihal bocornya rekaman audio dalam pertemuan yang dihadirinya dan menegaskan tidak pernah meminta izin kepada pemerintah China untuk mengundurkan diri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top