Ekonomi China Kembali Melambat pada Agustus

Ekonomi China melambat lebih lanjut pada Agustus karena kondisi domestik yang lemah, sedangkan intensifikasi ketegangan dengan AS dan perdagangan global yang memburuk semuanya telah merusak prospek ekonomi negeri bambu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  15:31 WIB
Ekonomi China Kembali Melambat pada Agustus
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonomi China melambat lebih lanjut pada Agustus karena kondisi domestik yang lemah, sedangkan intensifikasi ketegangan dengan AS dan perdagangan global yang memburuk semuanya telah merusak prospek ekonomi negeri bambu.

Sentimen di antara manajer penjualan dan pasar saham daratan China menurun, diikuti dengan indikator utama ekspor China yang juga terus menurun.

Namun, kepercayaan bisnis kecil meningkat untuk pertama kalinya dalam 5 bulan, sebuah tanda bahwa langkah-langkah stimulus pertumbuhan sebelumnya mungkin mulai memperlihatkan efeknya.

Dengan ketegangan perdagangan yang memburuk dan yuan yang melemah melewati 7 dolar AS, para pembuat kebijakan telah meningkatkan langkah-langkah yang ditargetkan untuk mendukung perekonomian, termasuk upaya untuk menurunkan biaya pinjaman uang dan paket lain untuk mendorong konsumsi.

Data resmi untuk Agustus akan dirilis pada Sabtu (31/8/2019) ketika indeks manajer pembelian diumumkan. Ekonom saat ini memperkirakan indeks manufaktur akan terus melambat setelah pertumbuhan output industri yang lemah pada Juli.

Ekonom China International Capital Corp, termasuk Eva Yi, dalam sebuah catatan menyampaikan bahwa mereka memperkirakan momentum pertumbuhan pada Agustus tetap lemah setelah kemunduran yang terlihat pada Juli.

"Siklus kredit yang lebih rendah dan penurunan pada nominal kredit membutuhkan kebijakan kontra siklus, terutama dalam bentuk pelonggaran moneter," tulis catatan tersebut, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (29/8/2019).

Perang dagang yang berlarut-larut terus membebani tidak hanya ekonomi China tetapi turut merambat ke negara-negara penyuplai bahan baku pabriknya.

Pengiriman keluar dari Korea Selatan turun 13,3% dalam 20 hari pertama Agustus, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menurut World Economics Ltd. yang berbasis di London, penjualan menurun ke level terendah dalam 6 tahun terakhir diakibatkan oleh rendahnya tingkat kepercayaan diri bisnis, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan pasar serta menyusutnya margin laba.

“Tekanan pada Bank Sentral China untuk melonggarkan kebijakan moneter meningkat, menurut analisis David Qu di Bloomberg Economics, Hong Kong.

Produksi industri dan tingkat pengangguran memasuki kisaran yang menunjukkan kebutuhan kuat untuk pelonggaran, dan kembalinya deflasi pabrik juga menunjukkan lebih banyak dukungan yang diperlukan.

Gambaran itu tidak semuanya buruk, dengan indeks kondisi bisnis kecil naik menjadi 54,5 bulan ini dari 53,8 pada Juli, menurut ekonom dari Standard Chartered Plc.

Perusahaan kecil yang berfokus di dalam negeri melaporkan kondisi yang lebih baik daripada yang berorientasi ekspor, dengan kenaikan keseluruhan dalam kinerja dan prospek saat ini pada Agustus, karena langkah-langkah pro-pertumbuhan mengangkat permintaan domestik.

Ekonom Standard Chartered Shen Lan dan Ding Shuang menuliskan dalam sebuah laporan bahwa permintaan domestik mendorong total permintaan pada bulan Agustus, sedangkan ekspektasi pesanan baru turut meningkat.

Hal ini menunjukkan bahwa efek lag dari kebijakan untuk mendorong pertumbuhan China mulai memberi masukan pada ekonomi domestik.

Banyak hal yang akan terjadi ke depan tergantung pada langkah apa yang diambil pemerintah.

Larry Hu, Kepala Ekonom China di Macquarie Securities Ltd., Hong Kong, mengatakan pihaknya tidak ingin terlalu negatif terhadap pasar karena faktor yang dapat mengubah kondisi satu-satunya adalah kebijakan pemerintah.

Meski demikian, Hu mengakui masih ada risiko dari penurunan jangka pendek akibat perang perdagangan AS-China, perlambatan pertumbuhan dan depresiasi yuan yang perlu diperhatikan.

"Jika keadaan terus memburuk, kami berharap para pembuat kebijakan untuk meningkatkan stimulus dan mengurangi ketegangan perang perdagangan," tulisnya dalam sebuah catatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top