Miliarder Hong Kong Mulai ‘Berteriak’

Aksi unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang seluruh bagian kota Hong Kong telah memasuki pekan ke-10. Para taipan Hong Kong mulai memecahkan kebisuan mereka ketika dampak dari pergolakan di pusat keuangan Asia ini meningkat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  15:25 WIB
Miliarder Hong Kong Mulai ‘Berteriak’
Pengunjuk rasa bertahan dalam aksi protes besar-besaran menuntut reformasi demokratis di pusat perbelanjaan New Town Plaza, Hong Kong, China, Senin (5/8/2019). - Reuters/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang seluruh bagian kota Hong Kong telah memasuki pekan ke-10. Para taipan Hong Kong mulai memecahkan kebisuan mereka ketika dampak dari pergolakan di pusat keuangan Asia ini meningkat.

Peter Woo, pemegang saham terbesar dan mantan Chairman perusahaan pengembang Wheelock & Co., pada Senin (12/8/2019) meminta para pengunjuk rasa untuk melonggarkan aksi mereka yang bertujuan menolak rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi dari wilayah itu ke China daratan.

Komentar Woo, yang diterbitkan di Hong Kong Economic Journal, disampaikan ketika bandara internasional kota tersebut membatalkan penerbangannya setelah ribuan demonstran menduduki bangunan utama pada Senin.

Kerusuhan berkepanjangan yang berlangsung selama sekitar dua bulan ini juga membebani pasar saham di wilayah itu, sekaligus menghapus kekayaan pribadi Woo senilai lebih dari US$1 miliar.

“Sudah waktunya untuk berpikir secara mendalam. Menentang RUU ekstradisi adalah ‘pohon besar’ dari gerakan ini. Seruan besar dan satu-satunya ini telah diterima oleh pemerintah, jadi pohon ini telah jatuh,” tulis Woo, seperti dilansir dari Bloomberg.

“Sebagian orang menggunakan permasalahan ini untuk dengan sengaja menimbulkan perkara,” tambahnya.

Titik balik kekerasan antara pihak kepolisian dan pengunjuk rasa terjadi pada 21 Juli dan seketika viral di media sosial, ketika segerombolan pria menyerang pengunjuk rasa di stasiun kereta bawah tanah Yuen Long.

Sikap pasif yang dirasakan dari pihak kepolisian terhadap insiden itu mendorong kemarahan demonstran dan mengalihkan fokus mereka dari RUU ekstradisi kepada penegak hukum dan pemerintah.

Sementara itu, pimpinan Hong Kong Carrie Lam telah menolak untuk mengundurkan diri. Lam tunduk pada sikap pemerintah China untuk tidak menyerah pada tuntutan pengunjuk rasa, termasuk penyelidikan independen tentang penggunaan kekuatan oleh polisi dan pembebasan tahanan.

Tanda-tanda kejatuhan ekonomi dari gejolak ini mulai tampak. Didampingi oleh para pemimpin bisnis pada 9 Agustus, Lam mengatakan guncangan lebih lanjut dapat memukul ekonomi Hong Kong seperti layaknya "tsunami".

Tak hanya Woo, pada Selasa (13/8), Sun Hung Kai Properties Ltd., yang dikendalikan oleh klan terkaya kota tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengutuk aksi demonstrasi dengan kekerasan dan menyerukan rasionalitas.

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan pada 8 Agustus, Asosiasi Pengembang Real Estat Hong Kong telah mengutuk kekerasan dan menyerukan perdamaian.

Tujuh belas anggota asosiasi ikut menandatangani pernyataan itu, termasuk Woo dan Li Ka-Shing dari Hutchison Properties. Seruan lain yang terbit dalam surat kabar berbahasa China dikeluarkan pada 10 Agustus. Salah satu penandatangannya adalah miliarder Henry Cheng dari New World Development.

Ancaman dari perang dagang dan kerusuhan lokal selama berpekan-pekan telah tampak pada pasar properti, jumlah wisatawan, hunian hotel, dan penjualan ritel.

Di samping itu, pelemahan nilai tukar yuan merupakan alasan lain yang perlu dikhawatirkan, karena akan mengurangi pengeluaran dari para pengunjung serta menekan laba untuk perusahaan-perusahaan yang mengandalkan China.

Pekan lalu, Wharf Holdings melaporkan penurunan laba dan mengungkapkan permintaan yang lebih lesu di Hong Kong. Pelemahan itu di antaranya disebabkan peringatan melakukan perjalanan, perlambatan ekonomi, kegelisahan pasar saham, dan ancaman terhadap pekerjaan.

Melalui pernyataan pada Selasa, Sun Hung Kai meminta para demonstran untuk memikirkan tindakan mereka.

“Serangkaian tindakan kekerasan baru-baru ini untuk menantang supremasi hukum telah merusak ekonomi Hong Kong dan secara serius mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga negara," tulis Sun Hung Kai.

Menurut pernyataannya, perusahaan akan mendukung pemerintah dan pihak kepolisian untuk memulihkan ketertiban.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top