Nasib Ekonomi Inggris yang Makin Rapuh

Inggris tak mampu menahan kontraksi ekonomi pertamanya sejak krisis keuangan hampir 1 dekade lalu, Perdana Menteri Boris Johnsons harus meningkatkan taruhannya untuk membawa negara tersebut keluar dari Uni Eropa secepat mungkin.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  11:44 WIB
Nasib Ekonomi Inggris yang Makin Rapuh
Ilustrasi brexit - Reuters

Inggris tak mampu menahan kontraksi ekonomi pertamanya sejak krisis keuangan hampir 1 dekade lalu, Perdana Menteri Boris Johnsons harus meningkatkan taruhannya untuk membawa negara tersebut keluar dari Uni Eropa secepat mungkin.

Produk domestik bruto (PDB) Inggris secara tidak terduga turun sebesar 0,2% pada kuartal kedua 2019 dalam realisasi performa ekonomi terburuk sejak 2012.

Data ini layaknya memberikan pratayang potensi keterpurukan ekonomi Inggris, yang sudah diperingatkan oleh sebagian besar ekonom, jika Brexit terjadi tanpa transisi apapun.

Penurunan pada data output berarti Inggris berada dalam bahaya resesi teknis jika kontraksi terjadi untuk satu kuartal lagi.

Hal ini juga menempatkan Bank Sentral Inggris (BOE) pada posisi yang sulit bersamaan dengan kebutuhan mendesak mereka untuk menaikkan suku bunga secara bertahap.

Menurut Gubernur BOE Mark Carney, reaksi dari no-deal Brexit, yang dapat menekan poundsterling lebih dalam atau mengerek inflasi sambil terus melukai pertumbuhan ekonomi, dapat bergerak ke segala arah.

"Momentum yang mendasari pertumbuhan tidak cukup kuat untuk menunjukkan peningkatan, tersumbat oleh pelambatan pertumbuhan global dan ketidakpastian Brexit. Akibatnya, sentimen bisnis menjadi suram," ujar Kepala Ekonom Konfederasi Industri Inggris, Alpesh Paleja, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (11/8/2019).

Penurunan ini terjadi dengan tiba-tiba karena hampir sebagian besar perusahaan telah kehabisan persediaan barang yang sudah mereka timbun sebelum batas waktu Brexit 29 Maret 2019.

Tingkat persedian barang di Inggris turun 4,4 miliar pound atau senilai US$5,3 miliar, mengurangi 2,15 poin persentase dari PDB.

Ekonom Bloomberg Dan Hanson mengemukakan bahwa data kuartal kedua yang suram mungkin melebih-lebihkan dampak dari hilangnya momentum pertumbuhan sejak awal tahun.

"Pertumbuhan kemungkinan akan kembali pada kuartal ketiga meskipun tidak sekuat sebelumnya," kata Hanson.

Ekonomi juga terpukul oleh kebijakan beberapa pabrik mobil yang mengajukan penutupan kegiatan pemeliharaan pabrik lebih awal, yang biasanya dilakukan pada musim panas, menjadi pada April untuk menghindari ancaman gangguan pasokan, mengacu pada batas waktu Brexit sebelumnya, 29 Maret.

Secara keseluruhan, penggerak ekonomi Inggris yakni sektor manufaktur, mengalami penyusutan terbesar sejak 2009 pada kuartal kedua 2019 yakni sebesar 2,3%.

Angka-angka ekonomi ini merupakan data pertama yang dirilis sejak Johnsons terpilih menjadi Perdana Menteri bulan lalu, di mana dia berjanji untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober, dengan atau tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Dalam serangkaian kesempatan wawancara setelah data ekonomi tersebut dirilis, Menteri Keuangan Inggris Sajid Javid mengatakan pihaknya akan berusaha untuk meminimalisir risiko dan dia cukup optimistis resesi tidak akan terjadi sama sekali.

Menurutnya, perbandingan data kuartal pertama dan kedua cukup signifikan karena bisnis melakukan penimbunan barang untuk mengantisipasi Brexit yang seharusnya terjadi pada Maret.

"Sekarang mereka menggunakan persedian yang ada, sehingga terlihat volatilitas dalam angka pertumbuhan," katanya.

Sementara itu, PM Johnson menjanjikan dorongan fiskal untuk membantu perekonomian mengatasi risiko Brexit.

Investor saat ini mempertimbangkan penurunan 25 basis poin dalam suku bunga BOE pada Januari 2020. Tren penurunan suku bunga telah dimulai oleh The Fed, sedangkan Bank Sentral Eropa telah menjanjikan lebih banyak stimulus segera setelah September.

George Brown, seorang ekonom di Investec Bank Plc., berpendapat bahwa latar belakang ekonomi global turut memberikan hambatan besar dalam pertumbuhan saat ini, sedangkan ketidakpastian Brexit terus membebani investasi bisnis.

"Tentu saja ada faktor dari persediaan barang yang berkurang, tetapi di balik itu, pertumbuhan ekonomi yang mendasar jauh lebih lemah," kata Brown.

PERINGATAN BAHAYA

Banyak investor berpendapat bahwa no-deal Brexit akan memberikan efek domino pada ekonomi dunia, membawa Inggris ke dalam resesi, mengacaukan pasar keuangan dan melemahkan posisi London sebagai pusat keuangan internasional yang unggul.

BOE pekan lalu memperkirakan bahwa ruang gerak pertumbuhan pada kuartal ini sangat terbatas dengan proyeksi kuartalan 0,3%, sedangkan proyeksi pertumbuhan tahunan akan turun menjadi 1,3%.

Data manufaktur Juni juga secara tak terduga menunjukkan penurunan di mana output untuk kuartal tersebut berkontraksi pada laju tercepat sejak awal 2009, ketika Inggris terperosok dalam resesi.

Survei bisnis sektor swasta menunjukkan sektor manufaktur dan konstruksi keduanya akan mengalami kontraksi pada bulan Juli, sedangkan sektor jasa yang lebih kuat diproyeksi mengalami pertumbuhan moderat.

Ekonomi Inggris telah melambat sejak referendum Brexit Juni 2016 dengan kesepakatan nasional untuk meninggalkan Uni Eropa. Tingkat pertumbuhan tahunan turun dari lebih dari 2% sebelum referendum menjadi sebesar 1,4% pada tahun lalu.

John McDonnell dari Partai Buruh mengatakan strategi Brexit Tories terlihat ceroboh.

"Boris Johnson sekarang membawa kita ke arah no-deal yang akan merusak ekonomi," kata McDonnell.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi inggris

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top