BNPB Kerahkan 5.929 Personel Gabungan Atasi Kebakanar Hutan

Sedikitmya 5,931 personel gabungan tersebar di empat provinsi untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Kelima wilayah yaitu Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  09:08 WIB
BNPB Kerahkan 5.929 Personel Gabungan Atasi Kebakanar Hutan
Kebakaran hutan dan lahan perkebunan sawit rakyat terjadi di sejumlah tempat di Desa Bukit Kerikil Bengkalis dan Desa Gurun Panjang di Dumai, Dumai Riau, Senin (25/2/2019). - ANTARA/Aswaddy Hamid

Bisnis.com, JAKARTA - Sedikitmya 5,931 personel gabungan tersebar di empat provinsi untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Kelima wilayah yaitu Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Personel gabungan bekerja keras untuk melakukan pemadaman dan pendinginan hingga Senin (29/7/2019). Personel tersebut merupakan bagian dari Satuan Tugas (Satgas) Darat berasal dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan kementerian/lembaga.

Total personel gabungan berjumlah 5.931 orang yang tersebar di 4 provinsi yaitu Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah masing-masing 1.512 personel, dan 1.395 petugas di Kalimantan Barat.

Agus Wibowo Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB mengatakan upaya Satgas Darat didukung oleh operasi udara di bawah kendali Satgas Udara. Jumlah tersebut belum mencakup dukungan dari pihak swasta, seperti APP Sinar Mas yang berkekuatan 3.180 personel tersebar di 5 provinsi.

Satgas Udara mengerahkan armada helikopter dan fixed wing, yang difungsikan untuk pemadaman, pendinginan, patroli dan survei. Menghadapi kebakaran hutan dan lahan tersebut, helikopter disiagakan di empat provinsi, yaitu Riau 17 helikopter, Sumatera Selatan 3, Kalimantan Barat 6 dan Kalimantan Tengah 7.

Helikopter yang ditempatkan di Riau merupakan dukungan dari BNPB 7 unit, KLHK 1, swasta 8, dan TNI 1. Total air yang digunakan untuk pemadaman dan pendinginan sejumlah 61.066.300 liter untuk semua wilayah terdampak.

"Selain armada helikopter, satuan tugas udara didukung pesawat untuk operasi teknologi modifikasi cuaca [TMC]. Operasi ini dimaksudkan untuk memicu terjadinya hujan di wilayah-wilayah yang papar hotspot dengan menebarkan garam di awan potensial," katanya melalui siaran resmi, Selasa (30/7/2019).

Berdasarkan catatan BNPB perkembangan per 29 Juli 2019 pukul 16.00 WIB, lahan terbakar di Riau seluas 27.683,47 ha. Dampak luas lahan di wilayah Riau terbesar dibandingkan wilayah lain di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Sementara itu, luas lahan terbakar teridentifikasi di wilayah Kalimantan Barat 2.273,97 ha, Sumatera Selatan 236,49 ha, Kalimantan Selatan 52,53 ha, Kalimantan Tengah 27 ha, dan Jambi 4,18 ha.

Adapun hotspot atau titik panas dengan kategori kepercayaan lebih dari 80% atau tinggi terpantau di wilayah-wilayah tersebut. Titik panas tercatat di Riau 27 titik, Jambi 26, Kalimantan Tengah 14, Kalimantan Barat 12, dan Sumatera Selatan 5 titik. Sedangkan Kalimantan Selatan tidak teridentifikasi adanya hotspot.

Meskipun terpantau adanya titik panas, kualitas udara (PM10) di Pekanbaru, Riau pada kategori baik. Kualitas udara tersebut sempat pada kategori sedang pada tengah hari kemarin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebakaran hutan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top