Realisasi Pembelian Sukhoi, Kemenhan dan Kemendag Saling Tunggu

Saat ditemui di Kantor Kemenhan, Rabu (12/6/2019), Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengklaim tahap pembelian Sukhoi SU-35 dari Russia sudah selesai dilakukan kementeriannya. Dia menyebut kontrak perjanjian sudah ditandatangani, dan Kemenhan tinggal menunggu pesawat tersebut datang.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  18:27 WIB
Realisasi Pembelian Sukhoi, Kemenhan dan Kemendag Saling Tunggu
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu - Bisnis/Lalu Rahadian

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perdagangan menunggu terkait realisasi pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Russia dengan metode imbal beli.

Saat ditemui di Kantor Kemenhan, Rabu (12/6/2019), Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengklaim tahap pembelian Sukhoi SU-35 dari Russia sudah selesai dilakukan kementeriannya. Dia menyebut kontrak perjanjian sudah ditandatangani, dan Kemenhan tinggal menunggu pesawat tersebut datang.

“Kalau antara saya dengan pabrik sudah selesai. Yang belum selesai adalah Kementerian Perdagangan. Karena ini kan pakai uang dengan pakai imbal dagang. 50 persen pakai uang, 50 persen imbal dagang. Ini yang belum selesai. Kalau saya sih enggak ada masalah, sudah selesai,” ujar Ryamizard.

Pernyataan Ryamizard bertolakbelakang dengan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan.

Meski mengakui ada beberapa poin kesepakatan imbal dagang yang belum disepakati Russia dan Indonesia, Nurwan menyebut “bola” perjanjian pembelian Sukhoi SU-35 sekarang berada di Kemenhan. 

Nurwan sempat menyebut saat ini daftar komoditas imbal beli yang diajukan Indonesia belum kunjung disetujui Rusia. Setidaknya ada 16 komoditas yang diajukan sebagai komoditas ‘barter’ dengan Rusia, di antaranya berupa minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, karet, biskuit, dan kopi.

“Intinya menunggu Kemenhan kapan dilaksanakan, kita pihak Russia dengan imbal beli. Jadi mau dibuat walking group, dibuat komoditi apa saja yang dibutuhkan Russia,” ujar Nurwan di Kantor Kemendag.

Dalam kerja sama dagang tersebut, Rusia diwajibkan membeli komoditas asal Indonesia sebesar 50 persen dari nilai pembelian Sukhoi tersebut. Nurwan mengatakan, total nilai pembelian untuk 11 unit alat tempur tersebut sejumlah US$1,14 miliar dengan kontribusi dari imbal beli mencapai US$570 juta.

Menurut Nurwan, selama ini Pemerintah RI terus menunggu kesediaan dari Rusia terkait dengan komoditas yang ditawarkan itu. Nurwan mengklaim, komoditas yang diajukan oleh Indonesia telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar di Rusia.

Indonesia sempat mengajukan 20 komoditas yang akan dipertukarkan dengan Rusia pada 2018. Namun, beberapa komoditas yang diajukan ditolak lantaran telah diproduksi Rusia. Salah satu komoditas yang diajukan Indonesia tetapi ditolak Rusia adalah seragam militer.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kementerian perdagangan, sukhoi, menhan

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top