Safari AHY dan Modal Partai Demokrat

Foto yang menunjukan kebersamaan antara Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputi yang juga Ibunda dari Puan Maharani, dengan Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono, dua putra Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Yodie Hardiyan & Stefanus Arief Setiaji
Yodie Hardiyan & Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  15:53 WIB
Safari AHY dan Modal Partai Demokrat
AHY saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

Kabar24.com, JAKARTA — Lewat akun Instaram @puanmaharaniri, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengunggah foto dengan caption singkat, “Di Teuku Umar dengan AHY dan EBY.”

Foto yang menunjukan kebersamaan antara Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputi yang juga Ibunda dari Puan Maharani, dengan Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono, dua putra Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Foto Puan yang disukai hampir 25.000 pengikut atau follower itu diunggah pada Rabu (5/6) atau tepat Hari Raya Idulfitri 1440 H.

Kehadiran AHY dan EBY ke Teuku Umar untuk melakukan silaturahmi dengan Megawati. Kedatangan Agus didampingi istrinya Annisa Pohan sedangkan Ibas—panggilan EBY— bersama istrinya Aliya Rajasa.

Pada hari pertama Idulfitri, dua putra SBY itu mendatangi Istana Negara untuk bersilaturahmi dengan Presiden Joko Widodo, lalu ke Teuku Umar bertemu dengan Megawati, dan dilanjutkan ke kediaman Presiden ke-3 RI BJ Habibie.

Esok harinya pada Kamis (6/6) hari kedua Idulfitri, AHY dan Ibas giliran mengunjungi kediaman keluarga Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Ciganjur.

Di sana, AHY dan Ibas diterima oleh Sinta Nuriyah Wahid istri almarhum Gus Dur dan putrinya Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid.

Pertemuan keluarga Yudhoyono dengan presiden dan mantan presiden itu terjadi dua kali dalam waktu kurang dari sepekan. Pertemuan pertama, terjadi dalam suasana duka cita saat Presiden Jokowi, Megawati, BJ Habibie, dan Sinta Nuriyah mengantar istri SBY, Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono ke peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Minggu (2/6).

Bagi AHY dan Ibas, ‘safari’ Lebaran dengan menyambangi kediaman sejumlah tokoh itu salah satu tujuannya untuk menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan selama ibunda mereka menjalani perawatan hingga berpulang.

“Saya keluarga mengucapkan terima kasih sekali, sudah mengantar almarhumah Ibu Ani sampai ke peristirahatan terakhir,” ucap AHY saat berada di kediaman keluarga Gus Dur dikutip dari keterangan resmi Partai Demokrat.

Demikian pula saat bertemu dengan Presiden Jokowi, AHY menghaturkan rasa terima kasih atas kesediaan Presiden Jokowi mengantar Ani Yudhoyono ke peristirahatan terakhirnya.

Bahkan, AHY sempat menyinggung pidato Presiden Jokowi  AHY yang memanggil ‘Flamboyan’ untuk ANi Yudhoyono yang disebutnya sangat menyentuh hati.

“Pidato beliau yang juga sangat mengharukan, menyentuh hati kami, bahkan menggunakan istilah “Flamboyan telah pergi tetap akan selalu di hati”. Kami meneteskan air mata karena dari dulu memang Pak SBY memanggil dengan sebutan Flamboyan bagi Ibu Ani. Itu sejak beliau taruna di Akademi Militer,” tutur AHY.

Terlepas dari itu, secara politik AHY sekarang ini memang ditempatkan sebagai ‘jembatan komunikasi’ oleh Partai Demokrat khususnya SBY dengan sejumlah tokoh.

Hal itu setidaknya diakui saat AHY bertemu dengan Presiden Jokowi pada Mei 2019. AHY kala itu menuturkan bahwa SBY ingin berkomunikasi langsung dengan Presiden Jokowi pascapengumuman hasil rekapitulasi penghitungan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 di Komisi Pemilihan Umum.

Dari hasil rekapitulasi, pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul 55,5% dari pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga S. Uno yang meraih 44,5%.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf diusung oleh koalisi partai politik yang terdiri dari PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai kebangkitan Bangsa, Partai Nasional Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Hati Nurani Rakyat.

Sementara itu pasangan Prabowo-Sandiaga diusung koalisi partai politik yang terdiri dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai  Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat.

“Presiden sangat ingin berkomunikasi dengan Bapak SBY terkait persoalan-persoalan bangsa saat ini dan ke depan. Tapi karena ada keterbatasan ruang dan waktu karena Pak SBY masih mendampingi Bu Ani yang sedang menjalani pengobatan di Singapura, saya menjadi jembatan komunikasi,” kata AHY kala itu di Istana Bogor.

Terbukti, AHY lebih luwes masuk dan menemui sejumlah tokoh politik senior. AHY juga mulai menempatkan diri sebagai politisi muda setelah memutuskan mundur dari karier militernya 2 tahun silam.

Sebagai pewaris Partai Demokrat, posisi AHY boleh disebut memiliki modal politik paling kuat di antara sejumlah politisi muda saat ini yang mulai diperhitungkan bersaing di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Peneliti Komunikasi Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah mengatakan bahwa pertemuan AHY dengan sjumlah tokoh, termasuk Megawati tidak bisa dipisahkan dari aktivitas politik kedua klan politik.

"Pertemuan dua klan politik, meskipun secara teknis tidak berurusan dengan politik, tetapi tetap saja bermuatan politis, karena komunikasi politik itu dinamis, tidak saja apa yang terlihat, tetapi memuat apa yang menjadi impact atau tujuan tersembunyi," ujar Dedi.

Meski momennya Lebaran, pertemuan tersebut disinyalir akan berdampak politis. Terlebih selama ini hubungan SBY dan Megawati terbilang buntu. 

Dedi menilai akan ada hubungan baru yang dibangun melalui generasi AHY dan Puan sebagai penerus keluarga Demokrat dan PDIP.
 
"Tentu sisi baiknya adalah silaturahim yang sengaja dibangun, hanya saja naif jika tidak melihat pertemuan ini berimbas politik kedua klan tersebut," kata Dedi.
 
Selain itu, Dedi melihat pertemuan tersebut menguatkan jalan pikiran SBY sejauh ini, bahwa Partai Demokrat tidak benar-benar berada di kubu koalisi Prabowo Subianto.

“Sekarang dengan harmoni pertemuan [dengan] Megawati. Tentu, itu cukup menjelaskan SBY berada di seberang Prabowo secara etika politik" jelasnya.

Pengamat politik dari Universitas Islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menyebut safari politik AHY terlihat untuk menyiapkan diri menyongsong 2024.

"Bahwa urusan menteri, Demokrat bergabung dengan Jokowi [Presiden Joko Widodo] mungkin iya, tapi ada suatu hal yang sebenarnya dipersiapkan Demokrat menyongsong 2024," katanya.

Dia menilai Demokrat juga ingin menghilangkan sekat politik dengan pihak-pihak yang selama ini dianggap berseberangan dengan Demokrat, salah satunya dengan kubu Megawati.

"Demokrat harus menghilangkan semua sekat-sekat politik yang selama ini menjadi halangan dan hambatan. Salah satu yang paling mungkin yakni menghilangkan sekat politik dengan Mega dan PDIP,"ungkapnya.

Masalahnya, politik memang tayangan FTV yang skenario ‘percintaannya’ mudah ditebak. Politik selalu dinamis. Dan dinamika itu yang membuat politik selalu ‘hidup’.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, megawati, agus harimurti

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top