Diancam Trump, Meksiko Kerahkan 6.000 Pasukan Cegah Migran di Perbatasan Guatemala

Denis Riantiza Meilanova | 07 Juni 2019 12:45 WIB
Para imigran menyeberangi sungai di dekat proyek pembangunan tembok perbatasan antara El Paso dan Ciudad Juarez, Meksiko, Selasa (5/2/2019). - Reuters/Jose Luis Gonzalez

Bisnis.com, JAKARTA — Meksiko menyatakan akan mengerahkan ribuan pasukannya ke perbatasan Guatemala untuk membendung gelombang migran Amerika Tengah.

Tindakan tersebut diambil di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor terhadap seluruh produk dari Meksiko jika negara tetangganya itu membiarkan gelombang imigran ilegal terus masuk ke AS.

"Kami telah menjelaskan bahwa ada 6.000 orang yang akan dikerahkan di sana," ujar Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard seusai mengadakan pertemuan dengan pejabat AS di Washington, dikutip dari Reuters, Jumat (7/6/2019).

Ebrard menambahkan bahwa pembicaraan Meksiko dengan AS tentang migrasi akan dilanjutkan pada Jumat ini.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Meksiko harus mampu membendung aliran imigran dari Amerika Tengah yang berusaha mencari suaka ke AS. Jika hal itu gagal dilakukan, maka AS akan mengenakan tarif impor sebesar 5% pada Senin mendatang.

Sejumlah analis menyebutkan jika ancaman itu menjadi kenyataan, maka ekonomi Meksiko akan terpukul sangat keras. Fitch, agensi pemeringkat utang, mengoreksi ke bawah peringkat utang Meksiko akibat peluang meningkatnya eskalasi politik perang dagang. Tak hanya itu, Moody's juga mengubah outlook Meksiko menjadi negatif.

Adapun pejabat AS menyebutkan ada 80.000 orang yang berada dalam tahanan karena menyeberang secara ilegal. Rata-rata ada 4.500 imigran yang datang setiap harinya.

Trump selalu menegaskan akan menghalangi masuknya imigran ilegal ke AS dan menyiapkan sejumlah langkah, termasuk membangun tembok di sepanjang perbatasan dengan Meksiko. Kebijakan itu menjadi salah satu hal yang dikampanyekannya sejak mengikuti Pilpres 2016

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, Donald Trump

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top