Andi Arief: Don't Cry For Me 02 !!

Melalui akun Twitter pribadinya, Andi mengatakan pasangan 02 seolah menabuh genderang perang dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan mengkambinghitamkan Partai Demokrat atas kekalahan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 07 Juni 2019  |  13:37 WIB
Andi Arief: Don't Cry For Me 02 !!
Prabowo Subianto melayat di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono. - Bisnis/Sholahuddin Al Ayyubi

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief lagi-lagi melontarkan sindiran ke pasangan capres cawapres 02 Prabowo Subiyanto-Sandiaga Uno.

Melalui akun Twitter pribadinya, Andi mengatakan pasangan 02 seolah menabuh genderang perang dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan mengkambinghitamkan Partai Demokrat atas kekalahan pada Pilpres 2019.

"Cara mencari alasan kekalahan paling keren adalah dengan mengarang teori konspiratif. Bahkan disukai istri Sandi Uno, artinya?" tulis akun Twitter @AndiArief_, Jumat (7/6/2019).

"Don't Cry For Me 02 !!," sindirnya.

Kemarin, kritik Andi disampaikan kepada para buzzer Sandiaga Uno yang dituding melakukan serangan ke Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku ketua umum.

Kali ini, sindiran pedas langsung ditujukan kepada Sandiaga Uno. Berawal dari deklarasi yang tidak melibatkan Partai Demokrat, hingga adanya dugaan pemberian mahar terkait terpilihnya Sandiaga sebagai pendamping Prabowo.

"Pasangan 02 deklarasi capres cawapres tanpa melibatkan Partai Demokrat, SBY dan AHY. Artinya, merasa kuat dan punya perhitungan sendiri untuk menang. Dalam kenyataannya kalah terpuruk, malah menyalahkan Partai Demokrat, SBY dan AHY. Ngambek pada kekuatan yang tidak dilibatkan," jelasnya.

Kata dia, Partai Demokrat, SBY, dan AHY diabaikan saat deklarasi 02 hanya karena mengatakan pasangan Prabowo Sandiaga tidak memiliki peluang menang. Setidaknya berdasarkan survei yang dilakukan. Kemudian Partai Demokrat menyarankan Prabowo mencari cawapres lain agar kesempatan menang terbuka.

"Tidak ada pandangan subjektif pada Sandi Uno dari Partai Demokrat, SBY dan AHY. Berdasarkan survei saat itu, Sandi Uno teridentifikasi politik SARA, sehingga sulit menang di Jateng dan Jatim yang pemilihnya besar. Pak Prabowo keras kepala dan meninggalkan Demokrat. Kini terbukti," lanjut Andi.

Meski tidak yakin akan kemenangan 02, sambungnya, Partai Demokrat, SBY, dan AHY tetap berupaya mencari jalan yang benar agar 02 menang. Menurutnya, berkali-kali pertemuan mengusulkan sesuatu yang positif namun selalu ditolak oleh 02.

"Pelajaran buat semua yang akan ikut capres dan cawapres, agar memperhatikan survei sebagai alat bantu kemanangan. Punya uang banyak namun survei tidak berpeluang dalam level pilpres jangan memaksakan diri."

Tak berhenti sampai di situ, Andi kembali menyindir dugaan kecurangan dalam penunjukan Sandiaga sebagai cawapres Prabowo. "Ada hal yang tidak pantas saya kemukakan soal mengapa Pak Prabowo memaksakan wakilnya Sandi Uno. Biarlah itu menjadi rahasia Partai Demokrat, SBY, dan AHY. Namun sejarah mencatat bahwa Partai Demokrat, SBY, dan AHY sudah menunjukkan jalan menang namun ditolak Pak Prabowo."

"Pileg dan Pilpres sudah selesai, KPU sudah menyatakan 01 menang, kini tinggal menunggu putusan MK. Partai Demokrat bukan anak buah koalisi, karena bukan fusi. Sehingga apa yang menjadi arah politik Partai Demokrat sepenuhnya hak kami. Demikian.," lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sby, ani yudhoyono, partai demokrat, sandiaga uno, prabowo subianto, Pilpres 2019

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top