30 Tahun Peristiwa Tiananmen, Taiwan Sebut China Masih Tutupi Pembantaian

Selain tak berusaha meminta maaf atas ratusan nyawa yang menjadi korban aksi represif militer, Taiwan menyebut China berusaha menutupi fakta sejarah lewat sensor media.
Iim Fathimah Timorria | 04 Juni 2019 11:45 WIB
Tentara China bergantian jaga di depan potret Mao Zedong, pemimpin China yang meninggal pada 1976, di Tiananmen Square, Beijing, China, Selasa (7/5/2019). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyebut China masih berusaha menutupi kebenaran di balik aksi kekerasan militer terhadap demonstran pro-demokrasi yang menggelar aksi di Tiananmen Square pada 1989.

Hal itu diungkapkannya pada Selasa (4/6/2019), menjelang peringatan peristiwa berdarah tersebut. Tepat hari ini 30 tahun silam, militer China melepaskan tembakan untuk menghentikan protes yang diinisasi oleh para pelajar di Beijing.

Di Taiwan dan berbagai negara lainnya, informasi mengenai pembantaian Tiananmen bisa diakses dengan leluasa. Publik juga bebas mengenang para korban yang berupaya mewujudkan China yang lebih demokratis.

Namun, di Beijing dan seluruh daratan China, otoritas setempat melarang segala peringatan publik. Sensor berita pada hari ini bahkan disebut jauh lebih ketat dibanding hari-hari lainnya.

"Pemerintah China tak hanya tidak berniat meminta maaf atas kesalahan mereka pada masa lalu, tapi mereka terus menutupi kebenaran," kata Tsai dalam sebuah unggahan di Facebook seperti dilansir Reuters, Selasa (4/6/2019).

Dia melanjutkan Taiwan akan tetap membela demokrasi dan kebebasan. Tsai juga menegaskan selama dirinya menjadi presiden, Taiwan tidak akan tunduk pada tekanan. 

Pernyataan itu merujuk pada tekanan Beijing atas kampanye kemerdekaan yang kerap menggema selama Tsai menjabat sebagai Presiden Taiwan.

Taiwan yang demokratis dan melepas keterikatan dengan China cenderung menjadikan peringatan Tiananmen sebagai momen untuk mengkritik rezim Xi Jinping dan menyerukan tanggung jawab Beijing atas aksi kekerasannya pada masa lalu.

Di sisi lain, China tak segan mengancam akan mengambil langkah represif untuk merebut kembali kendali atas Taiwan jika perlu. Beijing memang masih menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sebagaimana Hong Kong, isu kemerdekaan formal bagi Taiwan pun masih tabu bagi Negeri Panda.

Tiga dekade sejak pembantaian di Tiananmen, penindasan terhadap kebebasan di China masih berlanjut. Hal ini diikuti pula dengan upaya sensor yang jauh lebih ketat dibanding sebelumnya.

Penyedia informasi keuangan, Refinitiv, di bawah tekanan pemerintah China, telah menghapus berita Reuters dari Eikon yang berkaitan dengan peringatan 30 tahun pembantaian Tiananmen. Hal serupa juga terjadi di berbagai kanal media sosial.

Di tengah kritik atas usaha Beijing untuk menutupi catatan soal peristiwa Tiananmen, Menteri Pertahanan China Wei Fenghe menyatakan aksi militer kepada demonstran di Tiananmen 30 tahun lalu adalah keputusan yang "tepat". Dia mengklaim langkah pemerintah saat itu berhasil mengantarkan China pada stabilitas.

"Selama 30 tahun, China di bawah Partai Komunis telah mengalami banyak perubahan. Apakah Anda pikir langkah pemerintah dalam menangani protes 4 Juni adalah hal yang salah? Kesimpulan untuk kejadian itu, pemerintah sangat berkontribusi dalam menghentikan turbulensi," ujar Wei di sela-sela Shangri La Dialogue di Singapura, Minggu (2/6).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, taiwan

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top