FAA Rilis Masalah Baru Pada Sayap Pesawat Boeing

Otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat (The US Federal Aviation Administation/FAA) mengungkap sebuah masalah baru pada pesawat produksi Boeing, termasuk jenis yang sedang dikandangkan 737 MAX.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 03 Juni 2019  |  13:06 WIB
FAA Rilis Masalah Baru Pada Sayap Pesawat Boeing
Foto udara yang menunjukkan pesawat 737 MAX buatan Boeing diparkir di pabrik Boeing di Renton, Washington, Kamis (21/3/2019). - Reuters/Lindsey Wasson

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat (The US Federal Aviation Administation/FAA) mengungkap sebuah masalah baru pada pesawat produksi Boeing, termasuk jenis yang sedang dikandangkan 737 MAX.

Seperti dikutip dari Reuters, Senin (3/6/2019), FAA menyatakan lebih dari 300 pesawat berjenis 737 MAX dan model sebelumnya dari generasi 737 berpotensi memiliki cacat produksi di beberapa bagian dan otoritas ini akan meminta penggantian bagian yang bermasalah tersebut.

FAA mengatakan sekitar 148 bagian yang dikenal sebagai leading-edge slat track. Bagian ini diproduksi oleh penyuplai Boeing yang digunakan untuk MAX sebanyak 179 unit dan Next Generation sebanyak 133 unit di seluruh dunia.

Slat adalah panel yang terdapat di sayap bagian depan dan bisa memanjang saat lepas landas maupun mendarat untuk menambah daya angkat pesawat. Sementara itu, track atau jalur slat berada di dalam sayap dan berfungsi memandu bilah untuk bergerak.

FAA menyatakan bagian yang bermasalah tersebut kemungkinan rentan terhadap kegagalan dini atau retak yang disebabkan oleh proses produksi yang tidak tepat. Otoritas ini juga menyebutkan kerusakan leading edge slat track tidak akan mengakibatkan kehilangan sebuah pesawat, tetapi bisa menyebabkan kerusakan saat terbang.

Lebih jauh, FAA akan menerbitkan sebuah petunjuk kelaikan udara (airwothiness directive) yang meminta Boeing untuk mengidentifikasi dan mengganti bagian yang bermasalah. Operator penerbangan juga diminta untuk melakukan hal serupa dalam waktu 10 hari, tetapi dapat menerbangkan pesawat selama periode tersebut sebelum bagian yang bermasalah dihilangkan.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pengumuman FAA, Boeing menyatakan bahwa pihaknya belum diberi informasi apapun mengenai slat tracks. Produsen pesawat yang berbasis di Chicago ini menuturkan telah mengidentifikasi sebanyak 20 unit pesawat jenis 737 MAX, yang disebutkan berpotensi paling banyak memiliki cacat produk. Selanjutnya, Boeing akan melakukan pemeriksaan terhadap 159 unit MAX untuk bagian yang sama.

Boeing juga telah memeriksa sebanyak 21 unit jenis 737 NG dan ke depannya akan melakukan hal serupa untuk 112 unit 737 NG. Jenis pesawat ini merupakan generasi ketiga dari 737 yang dikembangkan sejak 1997.

Sebagai informasi, pesawat 737 MAX, produksi Boeing yang paling banyak diminati, dikandangkan secara global pada Maret lalu setelah kecelakaan fatal terjadi pada Ethiopian Airlines. Kecelakaan serupa sebelumnya juga terjadi pada Lion Air di Indonesia pada Oktober 2018. Dua kecelakaan ini menewaskan 346 orang secara total.

Boeing telah mengajukan pembaruan perangkat lunak ke FAA sebagai upaya agar pesawat 737 MAX diizinkan terbang kembali.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
boeing

Sumber : reuters

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top